Rumah Wangsamijaya

Alasan dibangunnya rumah kayu Wangsamijaya adalah sebagai wujud bakti seorang cucu, yang mewarisi harta turun temurun dari ayahnya, yang mewarisi semangat Wangsamijaya untuk membangun desa Cilongok.

Sedikit sejarahnya, akan kami tuliskan berikut ini;
image

Waryat Wangsamijaya, adalah nama salah satu sesepuh desa Cilongok yang pernah berjuang melawan belanda, hingga Indonesia merdeka, beliau dipercaya menjadi kepala desa. (Kalau ada yg tahu tahun lahir dan masa jabatannya, mohon info ya).

Anak keturunan yang ke 9, Drs. Sudarso, merupakan anak yang pertama keluar dari desa Cilingok dan merantau ke kota Kab. Tegal untuk melanjutkan sekolahnya, hingga mendapatkan pendidikan beasiswa di STIKN Jakarta.
image

Beliau sukses menjadi seorang pejabat di Dep. Keuangan, dengan penempatan tugas pertamanya ke kota Palembang, Surabaya, Jakarta, Denpasar dan akhirnya pensiun di Jakarta.

Menjelang beliau wafat pada tahun 2009, banyak kisah tentang desa Cilongok dan mimpi mimpinya tentang desa Cilongok yang maju. Kisah inilah yang menjadi kisah rutin saat anak anaknya bercengkrama dengan beliau sepanjang hari tuanya.

Saat beliau wafat, harta warisan Mbah Waryat Wangsamijaya, diturunkan kepada anak anaknya sebagai sebuah ikatan batin dengan desa Cilongok.

Awalnya tentu saja sulit bagi anak anak yang besar dan dewasa di kota besar harus mewarisi harta berupa tanah pertanian di desa.

Namun dengan berjalannya waktu, sejak tahun 2013, mulailah sebuah pemikiran untuk membuat ikon desa Cilongok. Dimulai dengan pertanyaan: Apa yang akan membuat desa Cilongok dikenal?

Tentu saja desa ini harus berbeda, bahkan desa ini harus menjadi magnet dan menjadi titik pusat bagi desa desa sekitarnya untuk semakin dikenal luas. Nah, rumah kayu yang unik tentu akan membuat desa ini berbeda. Ya… rumah kayu WANGSAMIJAYA, harus mulai dibangun agar masyarakat punya ikon dan menjadi semangat untuk ikut membangun desa.

Muncul pertanyaan berikutnya; Bagaimana caranya?

Ayo kita cari cara yang tepat, namun saat ini dicoba dulu dengan membagikan bibit durian musangking. Harapannya, tentu akan mendorong masyarakat bertanya tanya dan mencoba memahami ide ini. Bagi petani, pohon adalah sumber kehidupan. Saat besar, makin hari buahnya akan semakin banyak dan bisa menopang kehidupan sebagai hasil musiman yang melengkapi produk tani setempat.

Apabila seluruh petani dan desa sekitarnya menanam jenis buah yang sama, maka akan tiba saatnya dimana akan muncul produk tani yang unik dari desa setempat. Hal ini yang diharapkan jadi magnet pariwisata agro. Tentu saja, produk tani bukan hanya durian saja, tetapi produk tani lainnya juga akan ikut laris jika banyak masyarakat berkunjung ke desa kita.

Lalu apa hubungannya dengan rumah Kayu tadi?

Rumah kayu Wangsamijaya bukan hanya sebuah ikon desa, tapi harus kita manfaatkan menjadi tempat belajar mengelola pertanian yang baik, dan cara mengelola produk pertanian supaya laris dijual.

Rumah Kayu Wangsamijaya, juga menjadi simbol pemersatu desa desa disekitarnya, dan seluruh kelompok tani yang ada untuk sama sama menumpahkan ide dan cara terbaiknya dalam membangun desa Cilongok menjadi desa Wisata Agro yang makmur.

Semua iti terlihat sederhana ya, namun dibalik itu semua, terkandung kerja keras semua pihak dan kersama yang erat untuk mewujudkannya.
image

Ayo… pamerkan ikon Rumah Kayu Wangsamijaya… supaya mereka yang merantau juga akan selalu kangen untuk kembali ke desa…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s