Sang Waktu 

Waktu itu memang berharga… Allah saja bersumpah demi Waktu.

Seorang sahabat mengeluh soal keterbatasan waktu untuk membuat pembibitan tanaman, karena sibuk dengan pekerjaannya. Jadi saya mencoba memberikan gambaran tentang pentingnya WAKTU.

Waktu itu akan habis jika tidak digunakan. Jadi waktu itu selalu tersedia setiap saat… dan berlalu begitu saja…

Hanya kita sendiri yg bisa menentukan waktu kita untuk apa..? Ayo jangan mengeluh soal waktu…. dunia masih luas dan kehidupan kita hanya sekejap saja. Setelah itu akan lenyap tanpa bekas jika tidak kita isi dengan karya karya bermakna yang berkelanjutan.

Desa wisata bisa menjadi karya besar yang berkelanjutan, bertanam atau berkebun bisa jadi wilayah baru yang bisa dikelola dengan keterbatasan waktu.

Kita bisa mengelola waktu dengan memanfaatkan jasa orang lain, atau bahkan dengan kolaborasi tim seperti komunitas sadar wisata, kita bisa mendorong masyarakat membantu kita membuat dan merawat bibit tanaman… kita hanya sekedar membantu para petani pembibit untuk menjualnya… jadi sama saja seperti kita punya pembibitan tanpa harus ikut merawat dan menanamnya.

Jadi keterlibatan masyarakat untuk membuat pembibitan tanaman menjadi bagian dari ekosistem kewirausahaan desa wisata dengan segenap waktu yang ada….

Boleh percaya, boleh tidak…

Ketika saya mengeluh tidak punya waktu, ternyata waktu saya malah habis tersia-sia…

Ketika saya menyediakan waktu untuk sebuah tujuan, ternyata saya bisa membuat satu langkah baru yang membawa saya semakin dekat kepada tujuan tersebut.

Semoga bermanfaat…

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Rejeki dari langit

Iya.. rejeki dari langit gak pernah berhenti turun… Curah hujan yang tinggi di desa Cilongok bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan ekonomi juga loh…

Misalnya, untuk pembibitan, sangat cocok di tempat yang teduh dan curah hujan tinggi. Biaya pembibitan sangat murah, hanya perlu polybag kecil, segenggam tanah, dan secuil ranting kecil pohon indukan, serta keikhlasan merawat selama 6bulan dengan biaya tak lebih dari Rp.1000/bibit, bisa dijual Rp.10rb 6bulan kemudian.

Kalo gak laku, tanaman bisa terus dirawat dan terus tumbuh dan dipindah kedalam polibag yang lebih besar, sehingga harganya naik jadi Rp30rb – Rp.150rb, tergantung ukuran bibit.

Nah… kebayang kan bagaimana rejeki dari langit bisa memberikan nilai ekonomi jauh melebihi harga saham di bursa. Bayangkan jika kita bisa menjual 10ribu bibit setiap bulan dengan harga hanya Rp.10rb saja sudah Rp100juta di tangan.

Cara menjual 10rb bibit sangat mudah, karena wisatawan dan tamu kuliner datang, nantinya kan mereka bisa melihat lihat kebun yang dilalui, dan mereka bisa menikmati hasil kebun dan masakan nikmat dari hasil bumi warga.

Nah saat mereka yang datang kita  bisa berikan paket kuliner dengan bahan baku dari tumbuhan dan sayuran berkhasiat dengan harga Rp.100rb, termasuk harga bibitnya. Maka mereka pulang dengan perut kenyang dan bawa bibit tanaman sayur yang akan dikenang dan dirawat dirumahnya.

Contoh: tanaman lada

Bisa dibuat hidangan sapi lada hitam, atau produk kuliner lain dengan bumbu lada hitam yang kuat, dan disajikan dalam suasana desa, lengkap dengan koneksi internet dan petunjuk berbagai cara merawat dan menghasilkan lada hitam, sehingga mereka bukan sekedar menikmati makanan, tapi juga sedang menyantap pengetahuan tentang budidaya tanaman lada dan manfaatnya bagi kesehatan.

Layanan ini akan jadi sebuah pengalaman berkesan karena saat pulang, mereka membawa hadiah berupa bibit lada hitam untuk dirawat dirumah, lengkap dengan pengetahuanya untuk dibagikan kepada masyarakat luas sekaligus bercerita tentang desa wisata Cilongok.

Simak beberapa tips tentang khasiat lada hitam pada blog ini http://www.carakhasiatmanfaat.com/artikel/khasiat-lada-hitam.html

Untuk berbagai resep lada hitam, bisa disimak disini

https://cookpad.com/id/cari/lada%20hitam

Semoga bermanfaat….

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Membangun pariwisata desa Cilongok

Terinspirasi oleh beberapa tulisan, diskusi dan hasil kunjungan ke berbagai tempat wisata, saya terusik dengan berbagai kelemahan yang merugikan keunggulan masing masing kawasan wisata tersebut. Dari pengalaman tersebut, saya tahu bahwa sumberdaya manusia sangat mempengaruhi suksesnys kawasan wisata tersebut. 

Dibutuhkan satu langkah penting yakni membentuk komunitas atau tim kecil yg punya minat dan harapan yg sama untuk membangun kawasan wisata. Beberapa tempat membentuk komunitas sadar wisata, dan ada juga yg mulai dengan koperasi wisata.

Pertanyaannya: Ada yg mau bantu saya membentuk koperasi wisata? Komunitas atau koperasi wisata bisa dimanfaatkan untuk membangun kawasan wisata, jadi jelas bahwa saya tidak bisa sendirian. 

Banyak pihak harus bisa bersatu, untuk membuat kawasan wisata bermutu, khas desa Cilongok. Apalagi potensi kawasan wisata juga lumayan menarik. Misalnya, kita mampu mengundang 50 orang tamu setiap minggu, dimana setiap wisatawan bisa menghabiskan setidaknya Rp100ribu/orang, untuk bayar tiket masuk @Rp10rb, makan dan minum @Rp25rb, beli souvenir @Rp.50rb, dan bayar foto langsung jadi @Rp15rb.

Maka setiap bulan minimal ada 4minggux50orangxRp100rb = Rp.20jt perbulan dan seumpama keintungannya hanya 50% saja, maka keuntungannya sudah Rp.10jt/bulan.

Itu masih sedikit loh…

Karena satu kawasan wisata desa bisa menyerap paling tidak 100-3000 orang perhari. Artinya kalo bicara pesimis saja, setidaknya uang ratusan juta perbulan bakal mengalir deras…

sebagai contoh, Saung mang Ujo di Bandung, punya 500 warga yg mau bergabung di sanggar angklung mereka, dan mampu menyerap 1000 wisatawan per hari, hanya dari acara budaya saja, jualan souvenir dan penginapan yang hanya 7 kamar saja.

Di sebuah kawasan wisata di Bandung, membuat ruang makan seperti sarang burung. Bentuk unik seperti ini saja sudah bisa menyedot ratusan wisatawan…

Saya membayangkan seandainya tebing di tepi kali Erang dibuat jalan setapak yang rimbun seperti di atas, mungkin bisa menjadi daya tarik tersendiri.

Semua itu hanya bisa terjadi jika semua elemen masyarakat bisa bekerjasama mewujudkannya.

Jika belum tertarik, jangan kuatir, desa Cilongok punya rumah Wangsamijaya yang bisa dimanfaatkan sebagai pusat wisata desa, mungkin baru saja kita sadari bahwa kawasan wisata bisa menjadi penggerak ekonomi dan sebagai basis ekonomi suatu desa.

Yogya punya DAGADU, Bali punya JOGER; Banyuwangi punya OSING DELES

Lalu…. Cilongok punya apa….?

Cilongok punya Rumah WANGSAMIJAYA. dan kawasan desa Cilongok itu luas, jadi bisa dibuat jadi kawasan CROSS COUNTRY untuk sepeda, lari pagi dan jalan kaki.

Seluruh kawasan jelajahnya cukup dibuat sepanjang 5-10km saja, dan sepanjang rute tsb bisa dibangun kantong kantong pedagang sebagai tempat belanja buah, sayuran, bibit bunga, bibit tanaman obat, bibit tanaman buah, kaos batik khas desa dan berbagai macam souvenir, makanan, minuman, dsb.

Kalo sepi bagaimana…?

Gampang untuk bikin rame, karena setiap tahun desa Cilongok punya festival 17 Agustusan yg meriah, tinggal waktunya diperbanyak.

Kalo masih kurang banyak, masih bisa dibuat festival budaya, kirab budaya, lomba lari 5K, lomba fotografi, dan berbagai kegiatan yg menarik wisatawan.

Kalo kurang dana bagaimana…?

Nah ini rahasianya: SPONSORSHIP bisa kita mjnta dari BUMN/D dan PEMDA.

Kalo masih kurang juga, bisa dari biaya pendaftaran acara lomba, bisa juga dari perusahaan yg produknya kita gunakan atau dari donasi dan iuran anggota KOPERASI/Komunitas.

Sejatinya, gak ada uang yang datang tanpa kerja dan upaya, kalo cuman mau uang dari jasa parkir dan jasa preman, aah… itu mah sama sama dengan menurunkan derajat sukses kita ke titik yg paling rendah.

Kita bisa jadi BOS di kampung sendiri…. dan semua tamu bisa pulang dengan bahagia dan berkesan dari jasa pariwisata….

Semoga mimpi saya jadi kenyataan…. karena saya hanya memerlukan minimal 20 orang saja untuk membentuk koperasi. Perlu rapat umum pembentukan pengurus koperasi, penyerahan copy KTP, pembuatan ADART, penetapan akta notaris dan Kemenkop, lalu badan hukum siap.

Tapi jangan senang dulu…!!

Apa saja sih tugas anggota dan pengurus? Jangan cuman duduk diam saja sambil nunggu SHU tanpa kerja.

Ini dia tugas tugasnya buat para perintis kawasan wisata desa CILONGOK

Tahap 1

Rapat/diskusi rutin untuk persiapan konsep dan infrastruktur yg akan dibentuk. Dalam tahap ini akan muncul banyak perbedaan pandangan, perbedaan kepentingan, bahkan timbul rasa curiga terhadap mitra diskusi. Dari tahap ini lah akan terbentuk tim yang tangguh dan punya kekompakan dan visi yang sama. Namun sebaliknya, bisa juga gagal terbentuk tim besar, tapi bisa muncul tim kecil yang kuat dan lincah dalam menyusun konsep, strategi dan rencana aksi yang detil.

Tahap 2

Merealisasikan konsep tersebut dilapangan, mulai dari survey lapangan, sampai bawa cangkul dan jadi kuli mengeksplorasi kawasan potensi wisata.

Merapihkan lingkungan wisata, membuat kantong-kantong tempat belanja dan berdagang.

Melatih masyarakat menciptakan souvenir, pelatihan membuat batik khas cilongok, membuat produk kuliner, membuat produk clothing,  produk jajanan dan oleh oleh, sayuran, buah, dsb.

Tahap 3

Membangun kesadaran masyarakat wisata yg bersih, tertib, aman, nyaman dan indah. Tidak buang sampah sembarangan, tidak berebut tempat dagang yg kumuh dan merusak pemandangan, berbagi tugas dan peran.

Mengelola supplier untuk produk yg belum mampu dibuat sendiri.

Membuat pelatihan membuat jerajjnan tangan, membuat bibit bunga dan ranaman berkhasiat yang bisa dijual kepada wisatawan, dsb.

Tahap 4

Melakukan uji-coba dan promosi, dalam skala lingkungan, sehingga tatakelola kawasan mampu berjalan tertib.

Mengatur kawasan parkir dan tertib lalulintas karena jalannya kecil dan melewati desa desa lain sebelum sampai kawasan wisata.
Koordinasi dengan instansi dan aparat desa dan oemerintah setempat.

Tahap 5

Mulai memanfaatkan medsos dan media massa untuk publikasi. Pada tahap ini trafik wisatawan akan meningkat bertahap dan kerepotan baru akan mulai muncul dan semakin besar.

Tahap 6

Menyiapkan program/kalender kegiatan bulanan, triwulanan, semesteran dan tahunan untuk meramaikan kawasan wisata.

Membangun situs wisata baru yang membuat kawasan wisata semakin menarik.

Tahap 7

Berkompetisi dengan pasar nasional dan internasional melalui program unggulan.

Menjual rumah penduduk sebagai “hotel” yg murah meriah dengan standar kamar mandi dan tempat tidur yg nyaman.

Tahap 8

Membuat standar bagi hasil dan tatakelola yg adil dan saling mendukung.

Bisa saja hal ini ditetapkan pada tahap uji coba, namun biasanya belum terukur tingkat kesulitan dan sumberdayanya sehingga bisa salah hitung atau sulit terlaksana.

Setelah itu kita akan sampai pada puncak kegiatan untuk memelihara ekosistem bisnis supaya tetap nyaman dan menarik bagi wisatawan.

Jadi setelah skenario periapannya matang, selanjutnya konsep ini bisa disampaikan ke masyarakat, dan untuk mewujudkannya tentu saja saya perlu tim perintis yang mengerti visi dan misi rencana ini.

Mereka yang tergabung dalam group WA warga desa, saya anggap sebagai perintis yang melek teknologi, setidaknya punya WA dan mampu berkomunikasi, merekalah harapan saya untuk memulai langkah ini.

Setelah tim kecil terbentuk dan baru di susun action plan seperti yang sudah saya tulis secara singkat di atas.

Langkah tim kecil selanjutnya adalah membuat rincian rencana implementasinya… nah salah satunya tentu saja melibatkan masyarakat.

Kalo langsung melibatkan masyarakat… nanti judulnya ONE MAN SHOW, artinya cuman saya sendirian yang bergerak.

Tapi kalo kita bergerak bersama, tentu dampaknya lebih luas dan bermanfaat.

Saya tahu kalo untuk bergerak CEPAT saya bisa bergerak sendiri saja…

Tapi kalo saya ingin menjelajah JAUH, tentu saya butuh tim inti yang mengerti peran dan tugasnya.

Sampai disini langkah saya bisa saja terhenti… tapi bukan berarti mimpi itu berakhir, karena saya akan terus mencoba sampai saya lelah dan menikmati hari tua bersama keluarga saya sendiri….

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kedung PPT

Salah satu pengunjung blog ini memberikan komentar menarik, bertanya mengenai liputan kedung PPT.

Setelah berkeliling menanyakan lokasinya pada warga desa, ternyata tidak ada yang mengerti mengenai lokasi kedung ini, sehingga pencariannya pun makin tidak jelas. Namun sebulan yang lalu, saya sempat merencanakan membuat saung buat bersantai di tepi sungai. Nah atas dasar itulah saya menyusuri sungai Cilumpang yg ada disekitar rumah untuk mencari tempat yang cocok, dan dalam penelusuran ini, saya menyusuri saluran irigasi, hingga langkah saya terhenti melihat pemandangan indah dipagi hari.

Tanpa saya sadari, langkah kaki ini ternyata sampai pada sebuah jeram buatan, untuk keperluan saluran irigasi yg dibuat oleh pemerintah, dengan istilah Program Pengairan Kecamatan.

Program ini bagian dari program th 1999-2000 untuk desa Cilongok. Letaknya tidak jauh di sisi timur jembatan sungai Cilumpang, sebelum rumah kayu Wangsamijaya.

Suasana lingkungannya cukup asri walaupun banyak sampah dimana mana. Padahal kalau saja sungai itu jernih dan bersih, niscaya pemandangannya makin indah.

Sudut demi sudut saya jelajahi…

Suasana seperti ini bisa jadi indah jika dikelola dan dirawat dengan baik.

Namun kesadaran masyarakat sekitarnya belum cukup baik, karena masih banyak warga desa sekitar yang membuang sampah kesungai saat melintasi jembatan didekat situ.

Perlu komunikasi dan keterlibatan warga dalam membangun desanya sendiri…

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Menghitung berat sapi

14242260_10153915177632263_6344336655107911841_o

Setiap hari raya Idul Adha, banyak umat Islam berkurban dalam bentuk sapi, namun karena saat membelinya sulit untuk menghitung bobot sapi yang akan dibeli, maka diperlukan suatu metode perhitungan yang tepat, atau setidaknya cukup akurat dengan toleransi kesalahan yang minimal.

Berikut ini, saya akan sampaikan salah satu cara menghitung bobot sapi dalam keadaan hidup dengan toleransi kesalahan kurang dari 10%. Rumus ini merupakan rumus yang dibuat oleh Lambourne dengan melakukan konversi terhadap satuan yang cocok untuk masyarakat di Indonesia, yakni menggunakan satuan Kg dan Cm.

Rumus dasarnya adalah sbb:

BB = (LD² × PB)/10840

BB =Berat Badan

LD = Lingkar Dada

PB = Panjang Badan

sumber: http://disnak.jatimprov.go.id

Cara di atas, tentu akan lebih mudah jika kita bisa memanfaatkan kalkulator perhitungan sbb;

https://jscalc.io/embed/4EbCJl6wR2B7p6Ak?autofocus=1

Posted in Ternak | Leave a comment

Komunitas Pemuda Cilongok

Saat ini, ada beberapa komunitas pemuda Cilongok.

1. X-Erang Community
2. Jail
3. SKCB – Sedulur Kidul Curug Baok
4. APECT – Anak Pelayangan Cilongok Tegal
5. Setia Kawan Supir Cilongok
6. Bina Muda
7. Ireli – Ikatan Remaja Limbangan

image

Para tokoh pemuda desa Cilongok, Balapulang, Tegal

Berdasarkan diskusi dengan para anggota dan pengurusnya, mereka membentuk komunitas untuk keperluan pembinaan, sehingga anak muda bisa lebih produktif.

Saat acara 17 Agustus 2014, saya sempat meliput sedikit kegiatan mereka disini:

image

Komunitas SKCB

image

Komunitas APECT desa Cilongok, Balapulang, Tegal

Mudah mudahan dalam kesempatan lain, kita bisa berkumpul bersama dan menemukan cara untuk membangun desa.

Sebuah langkah kecil sudah kita mulai dari titik nol, menjadi bagian dari Sejarah Desa Cilongok, sebut saja RUMAH WANGSAMIJAYA, bisa jadi awal kebersamaan seluruh komunitas untuk bersatu padu menentukan arah kemajuan desa.

Kita buat desa Cilongok jadi daya tarik para perantau supaya pulang kampung dan membangun desa.

Penulis: Heru Muara Sidik

Posted in Uncategorized | 5 Comments

Rumah Wangsamijaya

Rumah Wangsamijaya adalah rumah panggung terbuat dari kayu serdang, dengan desain unik, yang dibangun di depan tegalan Cara, jalan menuju Slapi.

image

Desain Rumah Kayu Wangsamijaya

Alasan dibangunnya Rumah Wangsamijaya adalah sebagai wujud bakti seorang cucu, yang mewarisi harta turun temurun dari ayahnya, yang mewarisi semangat Wangsamijaya untuk membangun desa Cilongok.

Sedikit sejarahnya, akan kami tuliskan berikut ini;
image

Waryat Wangsamijaya, adalah nama salah satu sesepuh desa Cilongok yang pernah berjuang melawan belanda, hingga Indonesia merdeka, pada tahun 1960an beliau dipercaya menjadi kepala desa. (Kalau ada yg tahu tahun lahir dan masa jabatannya, mohon info ya).

Anak keturunan yang ke 9, Drs. H. Sudarso, merupakan anaknya yang pertama kali berani keluar dari desa Cilongok dan merantau ke kota Kab. Tegal untuk melanjutkan sekolahnya, hingga mendapatkan pendidikan beasiswa di STIKN Jakarta.
image

Beliau sukses menjadi seorang pejabat di Dep. Keuangan, dengan penempatan tugas pertamanya ke kota Palembang, Surabaya, Jakarta, Denpasar dan akhirnya pensiun di Jakarta.

Menjelang beliau wafat pada tahun 2009, banyak menyampaikan kisah dan mimpi mimpinya tentang desa Cilongok yang maju. Kisah inilah yang menjadi kisah rutin saat anak anaknya bercengkrama dengan beliau sepanjang hari tuanya.

Saat beliau wafat, harta warisan Mbah Waryat Wangsamijaya, yang dimiliki H. Sudarso, diturunkan kepada anak anaknya sebagai sebuah ikatan batin dengan desa Cilongok.

Awalnya tentu saja sulit bagi anak anaknya yang besar dan dewasa di kota besar, tiba tiba harus mewarisi harta berupa tanah pertanian di desa.

Namun dengan berjalannya waktu, sejak tahun 2013, 4 tahun setelah beliau wafat, mulailah sebuah pemikiran untuk membuat ikon desa Cilongok.

Lalu mulai muncul pertanyaan: Apa yang akan membuat desa Cilongok dikenal?

Tentu saja desa ini harus berbeda, bahkan desa ini harus menjadi titik pusat magnet bagi desa desa sekitarnya untuk semakin dikenal luas. Nah, rumah kayu yang unik tentu akan membuat desa ini berbeda. Ya… RUMAH WANGSAMIJAYA, harus mulai dibangun agar masyarakat punya ikon dan menjadi semangat untuk ikut membangun desa. Pemikiran ini cukup ambisius, dan tentu perlu rencana, namun tidak semua rencana bisa berjalan mulus, sehingga perlu keberanian untuk melangkah, walaupun langkah kecil.

Muncul pertanyaan berikutnya; Bagaimana caranya?

Ayo kita cari cara yang tepat, namun saat ini dicoba dulu dengan membagikan bibit durian musangking. Harapannya, tentu akan mendorong masyarakat bertanya tanya dan mencoba memahami ide ini. Bagi petani, pohon adalah sumber kehidupan. Saat besar, makin hari buahnya akan semakin banyak dan bisa menopang kehidupan sebagai hasil musiman yang melengkapi produk tani setempat.

Apabila seluruh petani dan desa sekitarnya menanam jenis buah yang sama, maka akan tiba saatnya dimana akan muncul produk tani yang unik dari desa setempat. Hal ini yang diharapkan jadi magnet pariwisata agro. Tentu saja, produk tani bukan hanya durian saja, tetapi produk tani lainnya juga akan ikut laris jika banyak masyarakat berkunjung ke desa kita.

Lalu apa hubungannya dengan rumah Kayu tadi?

Rumah Wangsamijaya bukan hanya sebuah ikon desa, tapi harus kita manfaatkan menjadi tempat belajar mengelola pertanian yang baik, dan cara mengelola produk pertanian supaya laris dijual.

Rumah Wangsamijaya, juga menjadi simbol pemersatu desa desa disekitarnya, komunitas pemuda dan seluruh kelompok tani yang ada untuk sama sama menumpahkan ide dan cara terbaiknya dalam membangun desa Cilongok menjadi desa Wisata Agro yang makmur.

Semua itu terlihat sederhana ya, namun dibalik itu semua, terkandung kerja keras semua pihak dan kersama yang erat untuk mewujudkannya.

image

Pondasi

Ayo… pamerkan ikon Rumah Kayu Wangsamijaya… supaya mereka yang merantau juga akan selalu kangen untuk kembali ke desa…

Penulis: Heru Muara Sidik

Posted in Uncategorized | 9 Comments