Mengenal Kecerdasan Emosional

Sore kemarin, 9 April 2017, saya coba membuat group WA Forum Komunikasi Warga Cilongok, dimana peminantnya baru sekitar 10 orang yang umumnya adalah warga Cilongok yang sedang merantau. Sebenarnya ini bukan forum pertama, setelah forum sebelumnya saya likuidasi karena kurang produktif, hanya berisi hasil copas tentang banyak hal yang sebenarnya sudah sering beredar di group lainnya.

Diagram of emotional intelligenceRespon mereka untuk bergabung dalam group ini cukup baik, mungkin karena sekarang WA punya fasilitas untuk invite anggota dengan link akses yang sederhana, sehingga mereka bisa bergabung dan pergi kapanpun mereka suka.

Topik pembahasan pertama, dalam grup ini adalah tentang Kecerdasan Emosional, yang sudah banyak bertebaran materinya di Internet. Jadi saya bisa dengan mudah mencari referensi bahan diskusi.

Saya memulai diskusi dengan sedikit bacaan ringan:
Dari  penelitian yang dilakukan oleh Univ Stanford di Amerika kepada anak TK yang kemudian diikuti perjalanan hidupnya sampai mereka dewasa. 

Penelitian diawali dengan meminta Guru TK membagikan marsmallow. Sejenis kue atau pemen yang sangat disukai anak  anak AS. Biasanya dibakar saat api unggun. Kue itu dibagikan oleh gurunya dengan pesan: “Anak anak, bu guru akan pergi sebentar. Jika nanti bu guru datang dan masih ada kue di mejamu, akan bu guru tambahi 1 kue lagi”.  Lalu guru tersebut keluar dan dengan kamera tersembunyi, tingkah polah anak anak itu diamati. Ada anak anak yang langsung saja memakan kuenya tanpa mempertimbangkan pesan gurunya. Ada juga yang gelisah bahkan menjilat njilat meja. Tetapi ada juga yang duduk diam sambil mengamati teman temannya. Dia tidak tergerak untuk memakan kuenya.

Setelah dewasa, anak anak itu diikuti kehidupannya, dimana terlihat bahwa mereka yang tidak sabar dan langsung memakan walau ada iming iming akan dapat lebih banyak ada di tataran paling bawah secara sosial ekonomi. Sedang mereka yang tenang dan sabar menunggu untuk mendapat imbalan lebih besar berada di puncak dari kelompok itu.

Dari cerita diatas… saya minta mereka memberikan tanggapannya, dan dari situ saya mencoba memahami pengetahuan dan pola pikir mereka, sehingga saya bisa melanjutkan dengan diskusi berikutnya yang menyesuaikan dengan minat dan harapan mereka.

Penjelasan dari cerita di atas saya urai agak teknis agar kita punya referensi ringkas mengenai EQ, dimana EQ menjelaskan tentang “Kecerdasan emosional (bahasa Inggris: emotional quotient, disingkat EQ) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan.”

Jadi semua orang sukses itu bukan karena di pintar, dia sholeh atau dia berpendidikan tinggi, tapi karena dia cerdas secara emosional.

Kemampuan menahan diri, sebenarnya sudah diajarkan oleh Islam, makanya dalam rukun Islam  ada PUASA, yakni berlatih menahan diri. Orang yang mampu menahan diri adalah orang yang punya bakat sukses. Berbeda dengan orang sabar, karena orang sabar bisa saja menahan diri dari amarah, tapi tidak mampu menolaknya, sedangkan EQ mengajarkan agar kita mau menunda kesenangan seperti layaknya orang berpuasa.

Dalam pola pikir materialistis, EQ juga mengajarkan kita untuk menempatkan diri dalam situasi berkecukupan, mengatur pengeluaran agar punya kemampuan untuk meningkatkan penghasilan yang lebih besar. Jika dalam konteks spiritual, kita belajar memupuk pahala sebanyak mungkin karena ingin masuk sorga.

Melalui uraian diatas, tentu saja saya berharap banyak komentar yang muncul agar saya semakin memahami mereka. Makin banyak komentar dan tanggapan, akan makin mudah bagi saya mengenali pribadi semua anggota di group tersebut. Jika tidak ada masukan, maka arah diskusi akan makin lambat dan membosankan.

Pesan sederhana dalam diskusi ini adalah agar kita semua bisa memahami bahwa kemampuan mengendalikan emosi, merupakan kemampuan menahan hawa nafsu, untuk memperoleh hal lain yg lebih baik. Selain itu, mengendalikan emosi juga merupakan kemampuan mengatasi rasa takut, rasa sedih, rasa cemas dan rasa rendah diri, sehingga kita lebih berani bicara, berani komentar, berani melangkah walaupun ada rasa ragu dan takut yang menghalangi keberanian kita untuk tampil.

Pertanyaan berikutnya bagaimana meningkatkan kemampuan EQ supaya kita bisa lebih sukses?

Menariknya adalah bahwa semua jawaban bisa berbeda, tapi bisa saling melengkapi. Kunci perubahan memang ada pada pola pikir, dimana orang yang pembelajar pasti akan cari tahu dengan membaca, mendengar, menyaksikan dan mempraktekkan. Semuanya bisa dilakukan lebih mudah jika kita bergaul di lingkungan yang tepat, berkawan dengan orang orang sukses, bekerjasama dengan mereka yang jadi panutan, maka otomatis kita juga akan menyesuaikan diri dengan mengikuti lingkungan tsb.

Bergaul dengan orang sukses, bukan berarti harus ketemu secara fisik, tapi bisa juga bergaul secara batin, yakni dengan membaca tulisan tulisannya, menonton video tayangan tentang pendapat dan pola pikir mereka, dan juga belajar dari semua lingkungan positif lainnya.

Contoh nyata bisa dilihat  dari kondisi orang desa Cilongok kebanyakan petani, tapi saat penduduk desa semakin banyak, sawahnya justru berkurang karena dijual, dibangun jadi rumah, dst… Akhirnya untuk bertahan hidup, banyak yang sekolah dan bekerja diluar desa Cilongok seperti kita semua di Group ini… Banyak juga yang sukses kerja di kota, jadi pedagang, jadi pegawai, jadi apa saja sesuai cita citanya… bagi sebagian orang itu sudah sukses soalnya sudah bisa sejahtera daripada tinggal di desa.

Jika diperhatikan, ukuran suksesnya kan hanya sebatas lebih baik daripada tinggal di desa. Jadi kalo desanya makin miskin, maka kalo kita bisa mudik pake avanza rasanya sudah keren banget ya…! Padahal seandainya kita punya desa yang makmur dan kaya, pasti yang pergi cari makan dikota pulang mudiknya pake mobil mercy.

Kerja diluar desa sebenarnya sangat baik, dan itu justru meningkatkan taraf hidup kita semua yg ada di desa, tapi lingkungan yg jadi ukuran sukses hanya sebatas standar hidup orang desa yang semakin miskin, sehingga kehidupan sosial ekonomi kita ya… belum mampu berkembang lebih baik.

Sampai sini pesan saya masih sederhana:
“Jika ingin sukses, bergaul dengan orang sukses, dan pelajari pola pikir dan cara mereka belajar, maka kita akan sukses juga, seperti mereka”

Hal yg sama juga berlaku buat orang yg bekerja dan tinggal di desa. Jika kita mau belajar dari desa desa lain yg sukses, tentu desa Cilongok juga akan jadi sukses juga.

Ini contoh di negara China:

http://m.liputan6.com/bisnis/read/2909758/huaxi-desa-miskin-yang-kini-jadi-terkaya-di-china

Saya pun tidak tahu bagaimana caranya? Tapi mereka bisa sukses dan jadi desa wisata yang dikunjungi ribuan orang setiap harinya… itu yang harus ditiru. Cerita tentang desa sukses tentu menjadi motivasi, karena itu saya buatkan blog desa Cilongok:

https://desacilongok.wordpress.com/

Supaya cerita tentang desa ini bisa di akses banyak orang dan menjadi sumber inspirasi bagi warga desa Cilongok untuk mewujudkan semua impian mereka dengan cara kolaborasi dengan warga lainnya.

Jadi pada prinsipnya sukses bisa ditularkan… itu sebabnya saya bangun Rumah Wangsamijaya buat tempat kita berkumpul, belajar dan meningkatkan rejeki kita semua. Saya ingin semua orang desa Cilongok jadi orang sukses, karena itu juga akan membuat saya sukses.

Salah satu cara penularan sukses yang bagus, adalah melalui diskusi dan berinteraksi dalam proses tanya jawab, sehingga kita akan memahami permasalahan dan diskusinya semakin tajam, namun belajar secara otodidak juga dimungkinkan, dengan cara membaca, menyaksikan video, menulis, dan semua itu hanya bisa dilakukan jika kita mau belajar. Ciri ciri orang yang sudah mengalami perubahan, biasanya akan terlihat dari cara bicara, cara menampilkan diri didunia maya, dan penampilan mereka didunia nyata. Supaya mudah, saya tulis saja contoh contohnya:

  1. Nama Asli, seringkali disembunyikan oleh mereka yang berselancar di dunia maya, apalagi di medsos. Banyak alasannya, bisa karena masalah keamanan identitas, bisa juga karena malu dan rendah diri dengan nama pemberian orang tua. Mereka yang percaya diri, tentu akan menggunakan nama asli dan bahkan dengan foto asli, sehingga orang akan mengenalinya. Dalam beberapa kasus, saya seringkali buka lowongan di medsos, dan menerima surat lamaran dari seorang yang menggunakan nama aneh, cenderung asing, dan biasanya justru saya menolak pertemanan dari orang orang dengan nama nama aneh dan tidak lazim, apalagi kalo menerima lamaran pekerjaan melalui email,  yang identitasnya tidak jelas seperti itu.
  2. Rajin komentar, biasanya dilakukan oleh orang yang ingin bergaul lebih intensif melalui proses diskusi dan tanya jawab. Mereka yang komentarnya runut, sopan dan lengkap, biasanya punya kepribadian yang baik dan seorang pembelajar. Bagi yang suka menulis singkat, dan bahkan dengan bahasa gaul yang kurang saya mengerti, tentu saja tidak menarik untuk diajak diskusi, karena hanya akan merepotkan dan cenderung ada salah paham karena tulisan yang singkat dan tidak lengkap.
  3. Menampilkan foto asli, juga bisa menggambarkan pribadi masing masing, ada yang sering menggunakan foto profile dari sumber yang tidak jelas, atau justru pakai foto pribadi, yang tampil kurang sopan, seperti sedang merokok. Nah foto foto seperti ini jelas kurang menarik buat mereka yang akan mengenal ybs, karena mereka merupakan pribadi yang bersembunyi dibalik foto orang lain, atau foto lain. Mereka cenderung rendah diri, malu atau kurang menghargai dirinya sendiri.
  4. Menulis status yang positif, akan menunjukan bahwa pribadinya juga positif. Mereka yang sering mengeluh, menulis kalimat kalimat alay, yang meratapi kehidupannya, seringkali cenderung menjadi orang yang tidak mampu bekerja, karena mereka sibuk mengeluh.
  5. Sharing hal hal yang bermanfaat, menggambarkan bagaimana pribadi tersebut ingin berbagi hal hal baik. Sedangkan mereka yang sibuk sharing berita permusuhan, berita hoax dan berita negatif lainnya, mungkin beranggapan akan segera mampu merubah dunia, padahal mereka sendiri sedang sibuk menyerap energi negatif dari alam sekitarnya. Orang seperti ini, jika diajak bekerja, akan sulit menerima perbedaan, dan cenderung menolak bekerjasama jika berbeda pendapat.

Sebenarnya masih banyak contoh lainnya yang bisa jadi ukuran pola pikir orang dan bagaimana peluang sukses mereka. Jika kita ingin sukses, maka bergaullah dengan orang sukses, yang selalu menyebarkan segala hal dengan cara yang positif.

Advertisements

About herusidik

Sedang belajar supaya bisa berguna buat sesama.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s