Melawan Uret

Dua minggu yang lalu saya mendapat laporan bahwa tanaman lada disekitar rumah Wangsamijaya banyak yang berdaun coklat dan mati. Berdasarkan laporan gejala yang terlihat dari foto daun yang mengering dan batang yang mati, kesimpulan pertama adalah terkena jamur. Oleh karena itu, segera di ambil langkah penanggulangannya berupa penyemprotan fungisida paling murah sejagad, yakni menggunakan larutan satu sendok soda kue, dicampur dengan 4liter air, dan sedikit air sabun untuk perekatnya. Hasilnya, tetap tidak menolong, sehingga saya memutuskan untuk melihat sendiri permasalahannya.

Tanggal 18 Maret 2017, saya berkunjung ke Rumah Wangsamijaya untuk melihat kondisi lapangan. Saya tiba sore hari dalam keadaan cuaca hujan cukup deras dan gerimis yang berlangsung sampai malam hari, bahkan ketika saya terbangun pada pukul 1 pagi, hujan masih terdengar, dan baru berhenti sekitar pukul 2 pagi. Cuaca hujan seperti ini, memang menguatkan dugaan adanya jamur yang menyerang tanaman lada.

Uret-metamorfosisSaat pagi hari, pak Jono menyampaikan keluhan soal tanaman lada yang hampir 30% mati, walaupun sudah mendapatkan perlakuan sesuai arahan untuk penyemprotan fungsida. Melihat kondisi ini, saya melakukan penelitian lebih jauh dengan membongkar tanaman yang sedang sakit. Hasilnya terlihat adanya uret, yakni larva kumbang yang sibuk makan akar tanaman dengan lahapnya. Dari satu tanaman saja, sudah terlihat ada dua uret yang menikmati akar lada, jadi bisa dibayangkan berapa banyak uret yang ada diseluruh kebun.

Untuk lebih jelasnya, saya coba gali informasi dari Wikipedia, supaya informasinya lebih lengkap, sebagaimana rincian berikut ini;

Uret (Lepidiota stigma) adalah larva serangga yang menjadi hama pemakan rupa-rupa (polifag) dengan menyerang perakaran berbagai jenis tumbuhan. Fase hidup yang paling mengganggu pertanian adalah fase larva yang dikenal dengan nama umum hama uret atau gayas. Serangga tahap dewasa dikenal sebagai ampal.

Serangga ini memerlukan sekitar satu tahun untuk menyelesaikan daur hidupnya. Dewasanya kawin dan bertelur pada tumpukan sampah/sisa-sisa daun di sekitar bulan Oktober-Desember. Selanjutnya, larva (dikenal sebagai uret) menetas dari telur sekitar dua minggu kemudian. Larva mengalami empat tahap perkembangan (instar), yang ditandai dengan pelungsungan (“ganti kulit”). Instar awal makan dari sisa-sisa akar atau akar yang halus. Instar ketiga, yang berwarna kuning pucat atau putih, adalah tahap yang paling mengganggu pertanaman. Ia akan hidup menjelajah di tanah dan memakan akar segar. Uret menyukai akar tunggang agak tebal dan pada pembibitan tanaman buah dapat mengakibatkan tanaman mendadak rebah atau mengering karena akar utamanya terpotong. Ukuran dapat mencapai 4 cm panjangnya jika telah tumbuh maksimum. Daya jelajah larva sangat besar, bahkan dapat ditemukan uret pada kedalaman 10 m dari permukaan tanah. Larva sangat ringkih di bawah sinar matahari. Paparan sinar matahari sekitar 5 menit akan membuat uret menghitam, mengerut, lalu mati.

Larva akan menjadi pupa pada sekitar bulan Agustus (memasuki puncak kemarau), hingga keluar menjadi serangga dewasa di bulan Oktober atau apabila curah hujan mulai meningkat kembali. Serangga dewasa praktis hidup hanya untuk kawin dan bertelur saja.

Hama ini menyerang tanaman pada lahan kering, seperti jagung, tebu, dan sorgum. Perkebunan tanaman industri, buah-buahan, maupun agroforestri juga terganggu oleh kehadiran serangga yang selalu kelaparan ini. Kehadiran di lahan pertanian biasanya melalui pemberian pupuk kandang yang kurang sempurna pembuatan dan kebersihannya, sehingga membawa telur atau larva instar awal.

Bagaimana cara membasminya?

Jika telah menyerang lahan, uret L. stigma sulit untuk dikendalikan. Pendekatan terpadu harus dilakukan, menyesuaikan dengan kemampuan petani dan ukuran lahan yang terinfeksi. Secara kultur teknis, sanitasi lahan dan penangkapan uret yang bisa dilakukan pada saat pengolahan tanah, lalu bisa juga dengan membasmi indukan ampal pada saat musim kawin, dan proses ini perlu dilakukan secara rutin, agar jumlah serangan tidak membunuh seluruh tanmanan.

Pengendalian biologi dilakukan dengan pemanfaatan cendawan parasit, seperti Metarhizium anisopliae, atau nematoda (cacing kecil) parasit (dikenal sebagai nematoda entomopatogenik), seperti Steinernema. Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan, tetapi biasanya kurang efektif.

Melalui sumber bacaan di atas, sekarang jelas permasalahannya, karena sudah menyerang hampir sebagian tanaman lada yang ada. Berikut ini saya uraikan apa saja kesalahan yang sudah terjadi ?

  1. Pemberian pupuk kandang yang tidak difermentasi dengan baik, sehingga mengundang ampal untuk berkembang biak.
  2. Petani kita, kurang memahami permasalahannya, dan hanya mengandalkan bahan kimia sebagai pembasmi hama, sehingga seringkali mengambil kesimpulan salah, karena hanya melihat yang ada dipermukaan tanah.
  3. Kurang perawatan, sehingga hampir seluruh kebun ditumbuhi rumput, dan tanaman lada tidak terlihat, dan saat dibersihkan baru tahu banyak lada yang mati.

Menyadari kesalahan tersebut, perlu dilakukan penanganan yang tepat, sehingga harus di lakukan proses edukasi, bahwa pemupukan harus melalui proses fermentasi yang baik, melalui penebaran microba EM4, atau nitrobacter sebagai  bakteri pengurai, dan jika diperlukan proses fermentasi ditambah dengan penggunaan furadan atau diazinon sebagai pembasmi serangga dan larva di dalam pupuk sebelum penyebaran di sekitar akar tanaman.

Pengendalian hama secara organik, masih akan saya coba menggunakan bakteri Metarhizium Anisopliae sebagai alternatif perlawanannya, dengan komposisi 100gr, dicampur dengan 100liter air, bisa digunakan untuk luas lahan sekitar 1000 m², mudah mudahan cara ini cukup efektif, untuk itu harus terus belajar lagi mencari solusi atas serangan hama ini. Sedangkan saat ini, langkah penanggulangan masih terbatas pada perawatan intensif, sekaligus membongkar tanah yang mengandung banyak uret.

Semoga informasi ini bermanfaat.

 

Advertisements

About herusidik

Sedang belajar supaya bisa berguna buat sesama.
This entry was posted in Budidaya Lada and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s