Resep Kaya Raya, Jadi Orang Desa

Dalam perjalanan pulang ke Jakarta dari Desa Cilongok, pada tanggal 19 Maret 2017 kemarin, rasa lelah sepanjang perjalanan jadi tidak terasa, apalagi harus menempuh kemacetan menjelang masuk kota Jakarta. Sepanjang jalan itu, saya tidak merasa lelah atau mengantuk, karena sibuk menumpahkan ide dan pikiran dalam bentuk diskusi dengan adik saya.

Adik saya kebetulan adalah seorang yang cukup berani mengambil keputusan menjadi wirausahawan, padahal saya sendiri yang sudah beberapa kali berhasil menjalankan usaha, namun akhirnya membiarkan usaha menjadi bangkrut karena merasa lebih nyaman menjadi karyawan. Jadi karyawan itu enak loh, tanpa beban, karena target perusahaan bisa dikejar secara bersama sama, bahkan tidak takut hidup susah, karena setiap bulan sudah ada jaminan pendapatan, bonus, fasilitas kesehatan dan fasilitas kerja yang sangat baik. Semua kenikmatan tersebut diatas, tidak mungkin kita peroleh jika kita wirausaha, apalagi wirausaha itu butuh modal.

Bayangan sebagai wirausahawan yang gagal menjalankan bisnis memang rasanya menakutkan. Itu lah sebabnya tidak banyak orang yang mau jadi wirausahawan, karena sejak kecil, saya sudah diarahkan untuk menjadi seorang pegawai negri. Ya pegawai negri yang hidupnya terjamin, dan pensiun dapat tunjangan sampai mati, namun akhirnya saya berhasil menjadi pegawai negeri, tapi karena tidak puas, akhirnya jadi pegawai swasta. Konsep kehidupan mapan seperti itu, tentu tidak bisa begitu saja berubah. Namun jika keadaan memaksa, dimana kita tidak punya pekerjaan, dan saat ini sedang membutuhkan penghasilan tetap, tentu harus memutar otak sebagai usahawan agar bisa bertahan hidup.

Lalu bagaimana caranya jadi wirausahawan, jika saya sendiri sedang menikmati hidup sebagai karyawan?

Sebenarnya, setiap manusia punya bakat usahawan karena dalam diri setiap mahluk hidup selalu ada bekal sebagai penyintas (survivor), tidak ada mahluk hidup yang benar benar mati sebelum mencoba bertahan untuk hidup. Salah satunya adalah dengan berusaha memperoleh penghasilan agar mampu menopang kehidupannya. Nah… berbekal kemampuan sebagai penyintas tadi, saya sudah pernah mengalami situasi dimana saya menjadi pegawai yang tidak memiliki jabatan, karena suatu hal buruk yang dituduhkan kepada saya oleh seorang karyawan perusahaan (kisah ini akan saya ceritakan dalam artikel terpisah), sehingga saya seperti kehilangan pekerjaan, walaupun tetap menerima gaji dan remunerasi yang normal, namun tidak banyak pekerjaan yang bisa saya lakukan untuk perusahaan tempat saya bekerja. Adanya naluri penyintas tadi, mendorong saya untuk berkarya, dan hasilnya sungguh diluar dugaan, karena tanpa saya sadari, saya telah membangun usaha berupa sebuah salon kecantikan, dua buah warnet, dan bahkan membangun studio foto, yang mampu bertahan selama kurun waktu 5-7tahun. Walaupun akhirnya seluruh usaha tersebut bangkrut, namun prestasi ini, juga jadi semacam pembuktian, bahwa setiap orang punya bakat wirausaha dan bisa berkembang baik jika dikelola dengan baik.

Nah, isi tulisan ini adalah tentang, bagaimana caranya menjadi kaya raya sebagai orang desa, dilatarbelakangi oleh semangat membangun desa, tapi tetap bisa menghasilkan keuangan yang cukup memadai dengan bisnis dari desa kecil. Ayo kita coba berhitung secara matematika agar memperoleh penghasilan yang memadai dari kegiatan usaha di desa.

Terdapat tiga cara usaha di desa kecil adalah dengan berternak, bertani dan berdagang, dari tiga model usaha tersebut, salah satu yang paling instan adalah berdagang, karena saat hari ini kita membeli produk, maka bisa langsung dijual dengan margin keuntungan yang kita tentukan, sedangkan untuk berternak dan bertani, kita harus investasi sejumlah biaya dan tenaga, selama kurun waktu tertentu untuk mendapatkan keuntungan saat panen tiba. Namun semua kegiatan diatas sebenarnya saling kait mengait, dan bisa menjadi bisnis model yang bagus.

Ilustrasinya adalah sebagai berikut:

Ternak= Perlu jerami untuk pakan dan tenaga kerja untuk menghasilkan daging, dan pupuk kandang; Tani= Perlu pupuk dan tenaga kerja untuk menghasilkan beras, jerami dan sekam, Dagang= Menjembatani kelangkaan pakan dan pupuk dari satu wilayah ke wilayah lain, serta menjual beras dan daging kepasar yang harganya lebih tinggi. Melihat potensi transaksi bisnis di atas, maka peternak dan petani, membutuhkan pedagang agar bisa memperoleh harga jual yang bagus, dan menekan ongkos produksi jika menggunakan pakan dari jerami petani, dan sebaliknya petani memperoleh pupuk dari peternak.

Sekarang ayo kita mengintip transaksi bisnisnya, dimana untuk memperoleh pertumbuhan 1kg/hari untuk seekor sapi, dibutuhkan 20-25kg pakan setiap hari (sebenarnya tergantung ukuran sapi) dengan harga sekitar Rp700-900/kg, sementara itu petani  membutuhkan pupuk kandang yang bisa meningkatkan hasil panen, dimana untuk padi organik yang harganya mahal, petani perlu pupuk kandang paling tidak 1-2ton perHa dari peternak, dengan harga Rp.500-700/kg. Melalui dua transaksi itu saja, seorang peternak harus keluar biaya sekitar Rp14rb-22.5rb/hari/ekor (Rp420-675rb/bulan), sedangkan petani membutuhkan biaya sekitar Rp.500rb-1.4jt/Ha/4bulan (jika dikonversi dalam hitungan bulan, jadi Rp250rb-350rb/bulan/Ha.) Selanjutnya, pedagang memperoleh keuntungan dari transaksi antara petani dan peternak, melalui proses pengangkutan, penyimpanan dan pengiriman material pakan dan pupuk saja, misalnya mengambil keuntungan Rp100/kg, maka untuk memperoleh penghasilan Rp10jt perbulan, seorang pedagang hanya perlu menjual 100 ton pakan/rumput/bulan. Dimana pedagang ini, hanya akan mengelola 3ton/hari, atau hanya mencari transaksi sebesar Rp1.5jt-2.7jt/hari. Darimana uang tersebut, yaitu dari harga pupuk kandang paling murah, sekitar Rp500/kg X 3000kg/hari = Rp.1.5juta, dan harga pakan ternak paling mahal sekitar Rp900/kg=Rp2.7jt.

Nah 3000kg pupuk kandang itu, bisa dihasilkan dari  150 ekor sapi yang memproduksi 20kg pukan per hari, sedangkan untuk  3000kg rumput pakan sapi, bisa dihasilkan dari seperempat Ha lahan padi, yang dihasilkan dari limbah panen, yang harus diolah dan disimpan dulu sebelum siap menjadi produk jadi pakan sapi.

Pertanyaannya, dari mana ada 150 ekor sapi, dan dari mana diperoleh 3ton pakan setiap hari?

Tentu saja semua itu bisa diperoleh jika ada 15 peternak yang masing masing punya 10 ekor sapi, dan ada 92Ha lahan padi yang setiap 4hari sekali, ada 1Ha lahan yang panen, menghasilkan 12ton jerami setiap panen. Byuuh.. hitungannya rumit, tapi untuk menyederhanakannya, maka untuk membuat bisnis itu hidup, maka harus ada yang ternak sapi dan tanam padi. Sedangkan untuk desa Cilongok, petani padi sangat banyak, padahal untuk peternaknya masih sedikit. Jadi supaya bisnisnya bisa jalan, maka harus dikembangkan program ternak dengan kandang komunal, sehingga proses pemberian pakan menjadi lebih mudah dan murah, sedangkan untuk produksi petani, saya melihat sudah cukup terjamin untuk menyediakan pakan ternak yang berkelanjutan.

Jadi untuk memperoleh penghasilan Rp10juta per bulan, dibutuhkan transaksi senilai 1.5-2.7jt/hari, dengan margin keuntungan rata rata Rp100/kg nilai transaksi pakan ataupun pupuk. Bagi saya, potensi ini adalah potensi tersembunyi, karena transaksi sebesar itu adalah transaksi sederhana, padahal dibalik itu masih ada potensi lain yang belum digarap, seperti perikanan air tawar dimana aliran sungai di desa Cilongok masih sangat potensial, belum lagi produksi pertanian lainnya seperti pengolahan limbah sekam untuk diolah menjadi arang sekam, dan di olah lebih lanjut menjadi briket arang yang harganya Rp4000/kg, sedangkan dalam proses pembuatan arang sekam, dihasilkan produk sampingan berupa asap-cair yang harganya Rp.20ribu per liter, karena fungsinya bisa untuk antiseptik, pencegah hama wereng, memberi aroma dan citarasa makanan, serta berbagai manfaat lainnya. Sedangkan arang sekam sendiri, juga masih bisa dikembangkan lagi menjadi arang aktif yang berfungsi sebagai penawar racun, warna dan bau.

Bukan itu saja, masih ada model bisnis yang ke-empat, yang merupakan pengembangan dari tiga model bisnis yang saya uraikan di atas (Berternak, Bertani dan Berdagang), dimana masih ada potensi lainnya, yakni saat industri pertanian dan peternakan berkembang, maka kita bisa mengundang investor untuk memanfaatkan kandang komunal, atau kolam komunal untuk budidaya ikan dan ternak, juga untuk mengembangkan wisata edukasi wirausaha pertanian, wirausaha peternakan dan menjadi tempat wisata lengkap jika ada pertunjukan kesenian dan kebudayaan, serta olahraga dan bisnis hospitality lainnya seperti, kuliner, penginapan home-stay,  pengobatan alternatif dengan produk organik, serta pertunjukan seni dan event budaya lainnya, maka skala bisnis di desa menjadi tanpa batas…

Mengembangkan industri wisata dan bisnis di desa, memang seperti mimpi, jangankan memulai, membayangkannya saja sudah begitu sulitnya. Namun begitu, tidak ada yang mustahil jika saja ada warga desa yang mau memulai, dan saya sendiri sedang memulai dengan membuat langkah langkah kecil, mengajak warga dan orang orang dekat untuk ikut merintis dan mengembangkannya. Sulitnya melibatkan warga di tahap perintisan memang sudah saya rasakan, yakni ketika membentuk POKDARWIS, padahal semangatnya sudah ada, namun ketika sudah disiapkan kegiatannya dan juga atribut seperti topi, dan kaos sebagai penyemangat….. ternyata hanya satu orang saja yang bisa hadir, yakni mas Wahyu Mustiko…  ya sudah lah, mungkin bukan sekarang saatnya, tapi semangat itu tetap ada, dan saya harus memutar kemudi mengambil jalan lain yang lebih panjang….

Begitulah omong kosong saya sepanjang perjalanan dari Cilongok ke Jakarta yang ditempuh dalam waktu 7jam perjalanan, sampai kaki terasa kaku…  semoga bermanfaat.

Advertisements

About herusidik

Sedang belajar supaya bisa berguna buat sesama.
This entry was posted in Wirausaha. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s