Rencana Pensiun

Kemarin sore, hari kamis 16 Maret 2107, ada sedikit obrolan dengan rekan Tunggal dan Darmaji mengenai rencana pensiun. Bagi yang sudah sepenuhnya menjadi usahawan hal seperti ini sudah bukan masalah, karena tidak ada lagi jadual pensiun… ha… ha…ha…

Namun bagi seorang karyawan seperti saya, tentu sangat menarik dan banyak hal saya ceritakan kepada rekan rekan dalam pertemuan ini. Berikut ini saya sampaikan  beberapa ide yang pada dasarnya sedang saya rintis secara pribadi, dan bukan mustahil akan melibatkan rekan lain yang sudah lebih berpengalaman serta punya pengetahuan lebih luas lagi. Supaya lebih jelas ayo kita simak saja uraian berikut ini:

1. Latar belakang
Cita cita untuk membangun desa, merupakan sebuah realisasi bakti kepada tanah leluhur, sekaligus sebagai ladang amal dan ujian persiapan untuk menghadapi masa pensiun yang aktif dengan kegiatan positif dan produktif, hal seperti ini merupakan impian sebagian orang yang punya ikatan emosional dengan kampung halamannya.

Namun mewujudkan cita cita tersebut punya kesulitan tersendiri, karena akan dimulai saat mendekati masa pensiun dimana kemampuan fisik dan ekonomi semakin menurun.

Padahal pengalaman dan kemampuan yang sudah membawa sukses selama ini, sebenarnya masih layak untuk di tularkan di desa, karena masyarakat desa tidak punya kesempatan untuk memoeroleh pendidikan dan pengalaman cukup sebagaimana yang sudah kita peroleh selama kita bekerja di sebuah perusahaan besar.

Kemampuan manajerial yang selama ini membawa perusahaan atau instansi kita sukses juga masih layak untuk diterapkan dalam membangun desa dalam skala yang lebih kecil.

Tentu saja semua itu perlu persiapan dan semangat untuk melakukannya dengan baik. Berikut ini sedikit catatan yang melatarbelakangi rencana membangun kewirausahaan berbasis sosial untuk mengisi hari tua dengan manfaat bagi masyarakat desa.

  • ProblemAda rasa kuatir terhadap masa depan setelah pensiun, takut tidak lagi produktif, menjadi lemah dan kurang dihargai. Situasi dimuka dialami oleh semua orang yang mendekati masa pensiun, sehingga banyak yang terlihat pura pura bahagia padahal sedang resah karena tidak tahu harus berbuat apa untuk mengisi masa pensiun. Kesimpulan ini saya peroleh dari wawancara dan diskusi dengan para calon pensiunan yang memiliki latarbelakang berbeda dengan tingkat jabatan bervariasi, mulai dari pensiuan pegawai negri sampai pesiunan pejabat yang sudah kaya raya.
  • Solusi – Membuat proyek sociopreneurship, dengan pendekatan pariwisata yang  bertujuan menarik pengunjung agar membelanjakan uangnya dalam satu kawasan unik, untuk membeli produk-produk lokal, sambil menikmati alam, budaya dan edukasi purnabhakti yang berbasis pengembangan tanah leluhur. Sehingga setiap orang bisa belajar untuk mengembangkan tanah leluhur masing masing dengan menduplikasi contoh nyata yang sudah berjalan sukses.
  • Pasar – Ada beberapa pasar utama yang penting untuk diperhitungkan, karena akan mampu memicu munculnya pasar pendukung lainnya, yakni:
  1. Wisatawan (Pengunjung/Konsumen)
  2. Usahawan (Supplier/Investor)
  3. Perusahaan (Karyawan).

Pengertian pasar, adalah calon pengguna produk dan layanan yang dihasilkan dari kegiatan ini

  • Kompetisi- Secara prinsip, semua produk yang dihasilkan punya kompetitor tersendiri, namun jika produknya berupa kawasan ekosistem kewirausahaan sosial berbasis wisata maka saat ini pasarnya cenderung captive, karena sifatnya yang berupa kawasan. Selain itu, ekosistem ini juga bisa menghasilkan produk pelatihan kewirausahaan, pelatihan kepemimpinan, kegiatan kebudayaan, dan bahkan bisa menjadi sebuah program business coach untuk masyarakat desa dan karyawan yang akan pensiun, karena hal ini belum banyak diperhatikan oleh pelaku bisnis. Banyak usahawan yang menjual produk franchise sebagai program pelatihan bagi karyawan yang akan pensiun, tapi menyatukan karyawan berbasis kawasan desa atau satu ekosistem bisnis, belum banyak yang mempraktekannya di lapangan. Hal ini terjadi karena sifat dan kemampuan para karyawan berbeda dengan usahawan, apalagi sifat masyarakat desa yang lugu, tidak akan mampu bersaing dalam menghadapi tengkulak dan usahawan dengan modal kuat. Oleh karena itu, membangun kawasan ekosistem bisnis, merupakan produk unik dan butuh kemampuan manajemen yang rata rata sudah dimiliki oleh para karyawan, dan masyarakat desa membutuhkan pemimpin manajemen untuk membawa produk mereka ke pasaran yang lebih dekat dengan harga yang memikat sekaligus memotong mata rantai tengkulak yang tidak sehat.
  • Keuangan. Sumber pembiayaan untuk membangun ekosistem bisnis dalam sebuah kawasan, sebenarnya bukan hal sulit, karena dukungan pemerintah melalui Pemda dan BUMN sudah sangat jelas, hanya saja tidak banyak lembaga yang terpercaya mempunyai konsep bagus dan kuat untuk membangun kawasan semacam itu.
      Perlu sebuah lembaga dengan manajemen yang baik lengkap dengan karya nyata yang bisa menjadi mitra pemerintah untuk mewujudkan kawasan semacam itu. Peran pemerintah tentu akan sangat membantu, sehingga harus didukung oleh LSM yang baik agar biaya yang dikeluarkan lebih tepat guna dan bermanfaat bagi masyarakat luas.Untuk mengawali semua itu, perlu infrastruktur awal, dimana seluruh biayanya akan menyedot uang pribadi. Dalam hal ini, 5 tahun menjelang pensiun, saya sudah menyiapkan rumah serbaguna, lengkap dengan kebun durian dan kawasan pendukung yang memadai.Investasi saat ini tentu saja belum menghasilkan pendapatan yang cukup memadai, namun setidaknya sudah mampu menghidupkan kegiatan masyarakat melalui latihan budaya kuntulan secara rutin.Pada saatnya nanti, secara bertahap akan disiapkan biaya pribadi untuk membangun tempat wisata kolam renang organik dan wisata unik dikawasan rumah Wangsamijaya sebagai awal mulainya program ini dalam 3 tahun kedepan, antara lain seperti:
  • Membangun Jalur lintas alam untuk olahraga dan bersepeda di sekeliling persawahan.
  • Memberdayakan masyarakat untuk membuat homestay, yang mendukung kegiatan budaya dan wisata sekitar.
  • Membuat event rutin, seperti acara Cilongok Run 10K, Cilongok Happy Walk, Kirab Budaya Cilongok, dan berbagai kegiatan lain yang memanfaatkan jalur yang sudah dibangun.

Kegiatan seperti di atas akan mampu menggali dana sponsorship dan menjadi sumber dana pengembangan lebih lanjut, sehingga masyarakat akan memperoleh manfaat secara langsung dari sebuah ekosistem kawasan bisnis yang mapan.

2. Produk dan Jasa
Secara spesifik produk yang dihasilkan adalah jasa konsultasi bisnis, namun agar jasa konsultan bisnis ini laku dijual, maka perlu bukti lapangan yang akuntabel dan sudah berjalan sehingga bisa menjadi pusat pelatihan dan pusat benchmark bagi para investornya.

Menggabungkan kemampuan berbagai pihak dalam satu ekosistem bisnis yang berhasil, bisa menjadi solusi menciptakan lapangan kerja baru bagi pensiunan, pengangguran dan bisa menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat setempat yang punya keunggulan komparatif sesuai kondisi kawasan sekitarnya.

  • Problem yang akan ditangani
    Meningkatkan ekonomi kawasan, sekaligus menciotakan lapangan kerja baru dan kualitas hidup masyarakat sekitar. Bahkan lebih luas lagi akan meningkatkan semangat kewirausahaan dan melahirkan wirausahawan berhasil dimasa depan.
  • Solusi yang akan ditawarkan
    Membuat kawasan wisata lokal sebagai pemicu kawasan bisnis dan menlahirkan supplier lokal sebagai pendukungnya.
  • Validasi Problem dan Solusinya.
    Menjelang pensiun, banyak karyawan yang tidak siap menghadapinya, sementara itu perubahan gaya hidup menyebabkan keresahan tersendiri bagi sebagian yang tidak siap. Pendekatan spiritual memang menjadi basis persiapan pensiun, namun hal itu bersifat intangible, sedangkan dalam prakteknya, perlu sebuah aksi nyata yang sifatnya aplikatif dan plug n play untuk para pensiunan yang masih produktif, sehingga semua perubahan gaya hidup terjadi dengan tingkat produktivitas yang baik, atau dengan bahasa kongkritnya: mereka tetap punya penghasilan dari kegiatan ini.
  • Rencana (roadmap)
    2014-
    Memicu minat masyarakat dengan ide kawasan kebun durian musangking dengan program pembagian bibit durian musangking; 2016-Sempat mencoba membentuk Pokdarwis Desa Cilongok, tapi gagal karena peminatnya hanya segelintir orang yang awalnya penuh semangat tapi mereka tidak mau menjadi pengurusnya, lalu kegiatan ini saya konversi menjadi pembagian bibit lada, untuk mendorong minat masyarakat mengembangkan budidaya lada;  2017-Membentuk sanggar budaya kuntulan dan akan dilanjutkan dengan budaya marawis; 2018-Membangun bisnis briket arang sekam, yang memanfaatkan limbah sekam dari pertanian sekitar; 2019 Membangun kolam renang organik, sebagai kawasan hiburan warga sekitar kecamatan balapulang; 2020 Full time mengembangkan kawasan ekosistem bisnis berbasis pariwisata.

Semua rangkaian cerita diatas hanya sebuah materi diskusi yang berbasis pada tahapan rencana yang sedang saya kerjakan, jadi tidak ada jaminan apakah semua rencana tersebut akan jadi sebuah kenyataan, atau apabila dikembangkan melalu jaringan alumni STAN yang tersebar luas di seluruh Indonesia, bisa juga justru akan berkembang menjadi sebuah bisnis unggulan yang menjadi sumber kehidupan banyak orang…  kita lihat saja….  sambil menikmati dan mensyukuri kehidupan…

Advertisements

About herusidik

Sedang belajar supaya bisa berguna buat sesama.
This entry was posted in Persiapan Pensiun, Wirausaha and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s