POKDARWIS Desa Cilongok

Ketika waktu subuh tiba, angin sejuk berhembus mengalir disela daun padi, pagi itu cuaca masih berkabut tipis. Dari kejauhan terdengar suara adzan dari masjid Jami’ Al Baroqah, di sudut jalan Wijaya II,  yang berada di tepi desa Danareja, yang justru paling lantang, karena letaknya dekat dengan Rumah Wangsamijaya, padahal rumah ini letaknya berada di Desa Cilongok. Jalan Wijaya II merupakan penghubung antara dua desa bertetangga ini, dan desa desa disekitar desa Cilongok sebenarnya terhubung begitu dekatnya, dengan adanya jalan beraspal hotmix yang mulus.

Kesejukan terasa begitu membius, membuat seluruh raga terasa begitu nyaman untuk sejenak meregang disertai tarikan napas panjang, memenuhi rongga napas dengan udara segar dan bersih. Ahh… nikmatnya suasana seperti ini begitu mahalnya, karena harus ditempuh selama 5 jam perjalanan dari Jakarta, waktu tempuh yang sebenarnya sudah jauh lebih cepat sejak jalan toll mulai beroperasi.

Kenyamanan dan keindahan semacam ini, sebenarnya sangat mudah dan murah bagi warga desa, dan bahkan tidak ada harganya karena mereka sudah rasakan dalam kesehariannya, dimana waktu telah membius mereka begitu lama, seolah hanya menyisakan orang tua, wanita, anak anak dan orang cacat yang tetap bertahan di desa desa kita. Suasana murung dalam kemiskinan, yang bangkit hanya saat ada lebaran dan hari libur, dimana warga desa yang merantau sedang rindu dan pulang kekampung halaman. Namun tidak semua warganya akan pulang kekampung jika sudah sukses di rantau. Banyak yang sudah kehilangan akar keturunannya, sehingga enggan untuk kembali apalagi untuk pulang menetap dikampung.

Kondisi semacam ini, hanya bisa berubah jika desa Cilongok mau berubah.

Di jaman serba instan dan biaya hidup urban yang melelahkan, warga kota ingin menikmati suasana desa, dan bahkan ingin menetap jika ada kegiatan ekonomi yang kuat. Hal ini hanya bisa dilakukan jika ada yang mau memulai dan merintisnya dengan langkah langkah kecil yang sederhana. Ya.. kita bisa mulai dengan membangun kesadaran membentuk KELOMPOK SADAR WISATA, kelompok yang punya visi mengembangkan pariwisata desa, punya misi membangkitkan semangat warganya untuk membangun desanya agar menarik untuk dikunjungi, dan bahkan merencanakan berbagai produk layanan yang mampu mengundang dan menahan wisatawan untuk menikmati desa Cilongok dengan segala kelebihannya.

Ya… desa Cilongok punya segalanya… tapi hanya bisa terjadi jika warganya mau memulai….

Posted in Pemberdayaan Desa | Leave a comment

Mengenal Kecerdasan Emosional

Sore kemarin, 9 April 2017, saya coba membuat group WA Forum Komunikasi Warga Cilongok, dimana peminantnya baru sekitar 10 orang yang umumnya adalah warga Cilongok yang sedang merantau. Sebenarnya ini bukan forum pertama, setelah forum sebelumnya saya likuidasi karena kurang produktif, hanya berisi hasil copas tentang banyak hal yang sebenarnya sudah sering beredar di group lainnya.

Diagram of emotional intelligenceRespon mereka untuk bergabung dalam group ini cukup baik, mungkin karena sekarang WA punya fasilitas untuk invite anggota dengan link akses yang sederhana, sehingga mereka bisa bergabung dan pergi kapanpun mereka suka.

Topik pembahasan pertama, dalam grup ini adalah tentang Kecerdasan Emosional, yang sudah banyak bertebaran materinya di Internet. Jadi saya bisa dengan mudah mencari referensi bahan diskusi.

Saya memulai diskusi dengan sedikit bacaan ringan:
Dari  penelitian yang dilakukan oleh Univ Stanford di Amerika kepada anak TK yang kemudian diikuti perjalanan hidupnya sampai mereka dewasa. 

Penelitian diawali dengan meminta Guru TK membagikan marsmallow. Sejenis kue atau pemen yang sangat disukai anak  anak AS. Biasanya dibakar saat api unggun. Kue itu dibagikan oleh gurunya dengan pesan: “Anak anak, bu guru akan pergi sebentar. Jika nanti bu guru datang dan masih ada kue di mejamu, akan bu guru tambahi 1 kue lagi”.  Lalu guru tersebut keluar dan dengan kamera tersembunyi, tingkah polah anak anak itu diamati. Ada anak anak yang langsung saja memakan kuenya tanpa mempertimbangkan pesan gurunya. Ada juga yang gelisah bahkan menjilat njilat meja. Tetapi ada juga yang duduk diam sambil mengamati teman temannya. Dia tidak tergerak untuk memakan kuenya.

Setelah dewasa, anak anak itu diikuti kehidupannya, dimana terlihat bahwa mereka yang tidak sabar dan langsung memakan walau ada iming iming akan dapat lebih banyak ada di tataran paling bawah secara sosial ekonomi. Sedang mereka yang tenang dan sabar menunggu untuk mendapat imbalan lebih besar berada di puncak dari kelompok itu.

Dari cerita diatas… saya minta mereka memberikan tanggapannya, dan dari situ saya mencoba memahami pengetahuan dan pola pikir mereka, sehingga saya bisa melanjutkan dengan diskusi berikutnya yang menyesuaikan dengan minat dan harapan mereka.

Penjelasan dari cerita di atas saya urai agak teknis agar kita punya referensi ringkas mengenai EQ, dimana EQ menjelaskan tentang “Kecerdasan emosional (bahasa Inggris: emotional quotient, disingkat EQ) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan.”

Jadi semua orang sukses itu bukan karena di pintar, dia sholeh atau dia berpendidikan tinggi, tapi karena dia cerdas secara emosional.

Kemampuan menahan diri, sebenarnya sudah diajarkan oleh Islam, makanya dalam rukun Islam  ada PUASA, yakni berlatih menahan diri. Orang yang mampu menahan diri adalah orang yang punya bakat sukses. Berbeda dengan orang sabar, karena orang sabar bisa saja menahan diri dari amarah, tapi tidak mampu menolaknya, sedangkan EQ mengajarkan agar kita mau menunda kesenangan seperti layaknya orang berpuasa.

Dalam pola pikir materialistis, EQ juga mengajarkan kita untuk menempatkan diri dalam situasi berkecukupan, mengatur pengeluaran agar punya kemampuan untuk meningkatkan penghasilan yang lebih besar. Jika dalam konteks spiritual, kita belajar memupuk pahala sebanyak mungkin karena ingin masuk sorga.

Melalui uraian diatas, tentu saja saya berharap banyak komentar yang muncul agar saya semakin memahami mereka. Makin banyak komentar dan tanggapan, akan makin mudah bagi saya mengenali pribadi semua anggota di group tersebut. Jika tidak ada masukan, maka arah diskusi akan makin lambat dan membosankan.

Pesan sederhana dalam diskusi ini adalah agar kita semua bisa memahami bahwa kemampuan mengendalikan emosi, merupakan kemampuan menahan hawa nafsu, untuk memperoleh hal lain yg lebih baik. Selain itu, mengendalikan emosi juga merupakan kemampuan mengatasi rasa takut, rasa sedih, rasa cemas dan rasa rendah diri, sehingga kita lebih berani bicara, berani komentar, berani melangkah walaupun ada rasa ragu dan takut yang menghalangi keberanian kita untuk tampil.

Pertanyaan berikutnya bagaimana meningkatkan kemampuan EQ supaya kita bisa lebih sukses?

Menariknya adalah bahwa semua jawaban bisa berbeda, tapi bisa saling melengkapi. Kunci perubahan memang ada pada pola pikir, dimana orang yang pembelajar pasti akan cari tahu dengan membaca, mendengar, menyaksikan dan mempraktekkan. Semuanya bisa dilakukan lebih mudah jika kita bergaul di lingkungan yang tepat, berkawan dengan orang orang sukses, bekerjasama dengan mereka yang jadi panutan, maka otomatis kita juga akan menyesuaikan diri dengan mengikuti lingkungan tsb.

Bergaul dengan orang sukses, bukan berarti harus ketemu secara fisik, tapi bisa juga bergaul secara batin, yakni dengan membaca tulisan tulisannya, menonton video tayangan tentang pendapat dan pola pikir mereka, dan juga belajar dari semua lingkungan positif lainnya.

Contoh nyata bisa dilihat  dari kondisi orang desa Cilongok kebanyakan petani, tapi saat penduduk desa semakin banyak, sawahnya justru berkurang karena dijual, dibangun jadi rumah, dst… Akhirnya untuk bertahan hidup, banyak yang sekolah dan bekerja diluar desa Cilongok seperti kita semua di Group ini… Banyak juga yang sukses kerja di kota, jadi pedagang, jadi pegawai, jadi apa saja sesuai cita citanya… bagi sebagian orang itu sudah sukses soalnya sudah bisa sejahtera daripada tinggal di desa.

Jika diperhatikan, ukuran suksesnya kan hanya sebatas lebih baik daripada tinggal di desa. Jadi kalo desanya makin miskin, maka kalo kita bisa mudik pake avanza rasanya sudah keren banget ya…! Padahal seandainya kita punya desa yang makmur dan kaya, pasti yang pergi cari makan dikota pulang mudiknya pake mobil mercy.

Kerja diluar desa sebenarnya sangat baik, dan itu justru meningkatkan taraf hidup kita semua yg ada di desa, tapi lingkungan yg jadi ukuran sukses hanya sebatas standar hidup orang desa yang semakin miskin, sehingga kehidupan sosial ekonomi kita ya… belum mampu berkembang lebih baik.

Sampai sini pesan saya masih sederhana:
“Jika ingin sukses, bergaul dengan orang sukses, dan pelajari pola pikir dan cara mereka belajar, maka kita akan sukses juga, seperti mereka”

Hal yg sama juga berlaku buat orang yg bekerja dan tinggal di desa. Jika kita mau belajar dari desa desa lain yg sukses, tentu desa Cilongok juga akan jadi sukses juga.

Ini contoh di negara China:

http://m.liputan6.com/bisnis/read/2909758/huaxi-desa-miskin-yang-kini-jadi-terkaya-di-china

Saya pun tidak tahu bagaimana caranya? Tapi mereka bisa sukses dan jadi desa wisata yang dikunjungi ribuan orang setiap harinya… itu yang harus ditiru. Cerita tentang desa sukses tentu menjadi motivasi, karena itu saya buatkan blog desa Cilongok:

https://desacilongok.wordpress.com/

Supaya cerita tentang desa ini bisa di akses banyak orang dan menjadi sumber inspirasi bagi warga desa Cilongok untuk mewujudkan semua impian mereka dengan cara kolaborasi dengan warga lainnya.

Jadi pada prinsipnya sukses bisa ditularkan… itu sebabnya saya bangun Rumah Wangsamijaya buat tempat kita berkumpul, belajar dan meningkatkan rejeki kita semua. Saya ingin semua orang desa Cilongok jadi orang sukses, karena itu juga akan membuat saya sukses.

Salah satu cara penularan sukses yang bagus, adalah melalui diskusi dan berinteraksi dalam proses tanya jawab, sehingga kita akan memahami permasalahan dan diskusinya semakin tajam, namun belajar secara otodidak juga dimungkinkan, dengan cara membaca, menyaksikan video, menulis, dan semua itu hanya bisa dilakukan jika kita mau belajar. Ciri ciri orang yang sudah mengalami perubahan, biasanya akan terlihat dari cara bicara, cara menampilkan diri didunia maya, dan penampilan mereka didunia nyata. Supaya mudah, saya tulis saja contoh contohnya:

  1. Nama Asli, seringkali disembunyikan oleh mereka yang berselancar di dunia maya, apalagi di medsos. Banyak alasannya, bisa karena masalah keamanan identitas, bisa juga karena malu dan rendah diri dengan nama pemberian orang tua. Mereka yang percaya diri, tentu akan menggunakan nama asli dan bahkan dengan foto asli, sehingga orang akan mengenalinya. Dalam beberapa kasus, saya seringkali buka lowongan di medsos, dan menerima surat lamaran dari seorang yang menggunakan nama aneh, cenderung asing, dan biasanya justru saya menolak pertemanan dari orang orang dengan nama nama aneh dan tidak lazim, apalagi kalo menerima lamaran pekerjaan melalui email,  yang identitasnya tidak jelas seperti itu.
  2. Rajin komentar, biasanya dilakukan oleh orang yang ingin bergaul lebih intensif melalui proses diskusi dan tanya jawab. Mereka yang komentarnya runut, sopan dan lengkap, biasanya punya kepribadian yang baik dan seorang pembelajar. Bagi yang suka menulis singkat, dan bahkan dengan bahasa gaul yang kurang saya mengerti, tentu saja tidak menarik untuk diajak diskusi, karena hanya akan merepotkan dan cenderung ada salah paham karena tulisan yang singkat dan tidak lengkap.
  3. Menampilkan foto asli, juga bisa menggambarkan pribadi masing masing, ada yang sering menggunakan foto profile dari sumber yang tidak jelas, atau justru pakai foto pribadi, yang tampil kurang sopan, seperti sedang merokok. Nah foto foto seperti ini jelas kurang menarik buat mereka yang akan mengenal ybs, karena mereka merupakan pribadi yang bersembunyi dibalik foto orang lain, atau foto lain. Mereka cenderung rendah diri, malu atau kurang menghargai dirinya sendiri.
  4. Menulis status yang positif, akan menunjukan bahwa pribadinya juga positif. Mereka yang sering mengeluh, menulis kalimat kalimat alay, yang meratapi kehidupannya, seringkali cenderung menjadi orang yang tidak mampu bekerja, karena mereka sibuk mengeluh.
  5. Sharing hal hal yang bermanfaat, menggambarkan bagaimana pribadi tersebut ingin berbagi hal hal baik. Sedangkan mereka yang sibuk sharing berita permusuhan, berita hoax dan berita negatif lainnya, mungkin beranggapan akan segera mampu merubah dunia, padahal mereka sendiri sedang sibuk menyerap energi negatif dari alam sekitarnya. Orang seperti ini, jika diajak bekerja, akan sulit menerima perbedaan, dan cenderung menolak bekerjasama jika berbeda pendapat.

Sebenarnya masih banyak contoh lainnya yang bisa jadi ukuran pola pikir orang dan bagaimana peluang sukses mereka. Jika kita ingin sukses, maka bergaullah dengan orang sukses, yang selalu menyebarkan segala hal dengan cara yang positif.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Belajar Organisasi

Judul diatas seperti mata pelajaran SMP, karena memang saya tujukan untuk para remaja sampai dewasa yang putus sekolah, dan merasa hidup itu sulit sehingga tidak punya daya dan kemampuan untuk bersaing di dunia kerja atau wirausaha.

Rasanya perlu untuk dikupas secara sederhana supaya mudah dicerna dan langsung praktek. 

Latar belakang materi ini terkait dengan keprihatinan saya setiap bertemu dengan para pemuda dan petani di desa Cilongok, rasanya mereka bangga punya perkumpulan komunitas dan ada yang sibuk jadi pamong desa sampai urusan partai dan organisasi kepemudaan.

Kelihatannya mereka sudah mampu berorganisasi dan justru saya yang harus belajar organisasi dari mereka. Itu sebabnya saya sempatkan untuk belajar dan bertemu serta diskusi tentang organisasi yang sudah ada dan sedang berjalan di lingkungan desa.

Awalnya saya terkesan saat mereka bercerita bagaimana kedudukan dan peran mereka dalam organisasi tersebut, namun saat muncul pertanyaan mengenai peran organisasi mereka bagi perekonomian desa dan perekonomian rumahtangga, kelihatan sekali kalo organisasi yang mereka bentuk hanya kepanjangan tangan dari sayap politik yang menggerakkan mereka dengan seragam organisasi yang harus dibayar, dan dalam komunitas desa, mereka hanya sibuk membuat kegiatan hiburan dan aksi jalan jalan bareng.

Mungkin tujuan organisasinya memang begitu. Membesarkan nama partai, membangun kekompakan dan ikatan persaudaraan, tapi tak lebih sekedar sayap politik untuk perolehan suara pemilu atau pilkada. Nah ini yang bikin saya prihatin.

Sebenarnya organisasi itu juga harus menjadi penggerak ekonomi jika punya tujuan ekonomi, tapi justru kelompok tani yang sudah ada tidak mampu menggerakan petani untuk maju dan berkembang. Kelompok tani hanya jadi kedok bagi eksistensi desa dalam menyalurkan bantuan pemerintah dan sumbangan dari CSR perusahaan. Rasanya kegiatan itu sama saja dengan kegiatan partai yang cari suara dengan bagi bagi sumbangan.

Ada beberapa warga yang punya impian dan harapan untuk membangun ekonomi desa, tapi saat bicara dengan pamong desa, tanggapannya mereka sibuk dengan pekerjaan rutin dan juga urusan ekonominya masing masing. Bahkan saat saya berikan dorongan untuk berorganisasi membangun desa, banyak yang meragukan kemampuan mereka sendiri untuk menjadi penggerak, karena sudah banyak para pengurus organisasi di desa ini yang juga aktif berorganisasi tapi malah tidak terlihat dampaknya pada perkembangan ekonomi desa.

Lantas apa yang salah….?

Bagi saya ini sebuah renungan panjang yang belun tahu juga jawabannya, namun setidaknya saya mencoba menyusun asumsi, bahwa kemampuan organisasi merupakan hal penting, karena walaupun banyak pengurus tapi organisasi baru bisa jalan jika ada yang menggerakkan. Sementara itu, masyarakat anggotanya juga akan tertarik untuk bergerak jika ada manfaatnya buat mereka.

Masyararakat desa sangat mengharapkan bantuan ekonomi, tapi mereka tidak mampu menggerakan ekonomi itu sendiri agar bantuan ekonomi menjadi tumbuh dan berkembang secara berkesinambungan.

Contoh nyata yang sering dikeluhkan adalah bantuan keuangan, bantuan bibit, bantuan pupuk dsb. Setelah dibantu, tidak ada cerita kelanjutannya seperti apa?

Nah dari asumsi bahwa organisasi itu penting, maka saya coba jabarkan arti organisasi itu sendiri.

1. Organisasi  merupakan kata benda, artinya sebuah perkumpulan orang atau lembaga yang punya tujuan dan kepentingan sama.

2. Bentuk kata kerja dari organisasi adalah organise atau mengatur dimana dalam setiap kegiatan, selalu ada proses yang teratur karena ada yang mengaturnya.

3. Kata dasar dari organisasi adalah organ, yaitu bagian tubuh dengan fungsi tertentu. Itu sebabnya organisasi yang utuh, punya susunan pengurus, dan biasanya pengurus itu dipilih dari mereka yang aktif dan punya pengaruh terhadap orang disekitarnya.

Dari tiga makna di atas, terlihat bahwa elemen organisasi meliputi, anggota, pengurus, dan tujuan, yang berkumpul dalam satu gerakan teratur dan rapih menuju suatu tujuan. Menggerakkan warga dalam sebuah organisasi desa butuh kepemimpinan, sementara itu definisi kepemimpinan itu sendiri merupakan bagian dari kepengurusan, yang terdiri dari para pemimpin. Anggotanya juga para kepala keluarga yang juga harus mampu memimpin keluarganya, bahkan pemimpin itu bisa pria atau wanita, sepanjang tujuan organisasi bisa diwujudkan, maka tidak ada salahnya jika kita sebagai anggota juga memiliki jiwa kepemimpinan agar kita tahu apa yang sedang kita kerjakan.

Contoh jika ada lima orang kuli bangunan, yang sedang membangun istana. Lalu diminta menjawab pertanyaan: “Apa yang sedang anda lakukan?”

Tentu jawabannya akan menggambarkan kualitas kepemimpinan mereka. Jawabannya bisa berbunyi sbb:

  1. Hidup saya susah, apa anda gak lihat apa yang sedang saya kerjakan.
  2. Saya sedang kerja kuli untuk cari makan.
  3. Saya sedang membangun istana.
  4. Saya sedang belajar membangun istana, agar saya bisa membangun istana saya sendiri.
  5. Saya bangga bisa berperan membangun istana ini sehingga saya bisa ikut belajar dan menjadi bagian dari sejarah untuk membangun kemajuan negeri ini.

Berdasarkan jawaban tersebut di atas, bisa kita rasakan latarbelakang yang mendorong mereka bekerja, dan apa tujuan mereka bekerja.

Mereka yang sibuk mengeluh dan sibuk bekerja sudah pasti akan menghasilkan hasil karya yang berbeda. Apalagi jika kita bekerja dengan penuh impian membangun diri sendiri dan membangun negeri, tentu disana ada KEGILAAN pada sebuah makna kehidupan. Ada sebuah tujuan yang hakiki dan sarat makna bagi perkembangan pola pikir kita sendiri.

Untuk melanjutkan diskusi ini, yuk buat warga desa Cilongok, mampir ke group Laskar Cilongok, biar diskusinya tambah seru.

Posted in Organisasi | Leave a comment

Perbedaan Orang Kaya dan Miskin

Seandainya warga desa Cilongok tahu…. tentu bisa jadi desa paling makmur di negeri ini….. Coba simak tulisan yang saya rangkum berikut ini:

Perbedaan antara negara kaya dan negara miskin, bukan pada usia kemerdekaannya. Buktinya, negara seperti India dan Mesir, yang sudah berusia lebih dari 2000 tahun lamanya, masih tetap menjadi negara miskin. Sementara itu, Kanada, Australia, dan Selandia Baru merupakan negara yang baru muncul  mulai 150 tahun yang lalu, dimana dulunya adalah negara kecil yang tidak dikenal, dan sekarang sudah berkembang menjadi negara kaya raya.

Perbedaan negara kaya dan negara miskin juga bukan karena sumber daya alamnya yang melimpah. Buktinya, Jepang dengan wilayah yang terbatas, 80% diantaranya adalah pegunungan beku yang tidak bisa digunakan untuk bertani ataupun berternak, tetapi Jepang saat ini merupakan negara dengan kekuatan ekonomi nomor dua didunia. Negara Jepang itu seperti pabrik yang mengimpor bahan baku dari berbagai belahan dunia, lalu membuatnya menjadi produk yang diekspor keseluruh penjuru dunia.

Contoh berikutnya adalah negara Swiss, dimana mereka tidak punya pohon coklat, tapi mampu memproduksi coklat terbaik didunia. Padahal wilayahnya sangat kecil, dan hanya bisa memanfaatkan lahan pertaniannya selama 4bulan saja setiap tahunnya, namun mampu dikelola untuk membuat pakan ternak yang menghasilkan produk berbasis susu dengan kualitas terbaik didunia. Selain itu, Swiss juga terkenal sebagai negara yang punya bank dengan keamanan yang terkuat didunia.

Para eksekutif dari negara maju yang berinteraksi dengan eksekutif dari negara miskin, menunjukan tingkat intelektual berbeda, bahkan masalah rasial seperti warna kulit, bukan hal penting yang mempengaruhi produktivitas. Para buruh migran yang dulunya sangat malas bekerja di negara asalnya, ternyata bisa bekerja secara produktif di negara kaya di kawasan Eropa.

Lalu apa yang membuatnya berbeda…?

Perbedaannya terletak pada atitud masyarakatnya, yang terbentuk melalui pendidikan dan kebudayaan selama bertahun tahun. Ketika dilakukan analisis terhadap perilaku masyarakat dari negara kaya, ditemukenali bahwa pada umumnya mereka memegang prinsip hidup sebagai berikut:

1. Etiket, sebagai prinsip dasar.
2. Integritas.
3. Tanggungjawab.
4. Menghormati hukum dan regulasi.
5. Menghormat hak orang lain.
6. Suka bekerja.
7. Suka menabung dan investasi.
8. Ingin lebih produktif.
9. Memegang janji.

Sedangkan pada negara miskin, hanya sebagian kecil masyarakatnya yang memegang teguh prinsip hidup di atas dalam kesehariannya. Kita tidak akan miskin karena ketiadaan sumberdaya alam, atau karena alam begitu kejamnya kepada kita, namun kita miskin karena kita memiliki sikap mental yang buruk, kita lupa mengikuti dan mengajarkan prinsip hidup di atas, sebagaimana diterapkan dalam pendidikan di negara negara maju.

Jadi…. yang membedakan orang kaya dan orang miskin, ternyata adalah sikap mentalnya, atau biasa disebut dalam bahasa inggris ATTITUDE, yang kalo diterjemahkan menjadi atitud, atau saya konversi menjadi SIKAP MENTAL, dimana setiap pribadi punya prinsip hidup yang akan mempengaruhi sikap mentalnya menghadapi permasalahan.

Orang yang sering mengeluh, tidak punya modal, tidak punya keterampilan, tidak punya relasi, tidak punya pendidikan, dan sebagainya, adalah orang yang sikap mentalnya buruk atau negatif. Sebaliknya, mereka yang punya sikap mental positif akan menjawab setiap tantangan dengan mengatakan bahwa dimana ada kemauan disitu ada jalan, dan langkah untuk maju akan semakin terbuka lebar manakala kita sudah punya kesempatan.

Kesempatan itu sebenarnya datang dalam berbagai bentuk dan cara, bahkan ada didepan mata kita, hanya saja sikap negatif biasanya akan menutup peluang itu dengan sendirinya. Contoh sederhananya adalah ketika kita lihat ada seorang menteri dari sebuah desa di Brebes, dan lahir sebagai anak miskin, padahal banyak orang kaya yang anaknya punya pendidikan jauh lebih bagus, tapi tidak serta merta anak anak mereka bisa menjadi menteri. Begitu juga ketika saya membaca kisah pendiri toko buku Gunung Agung, yang dulunya hanya seorang miskin, yang hidup dari mendorong gerobak angkut, untuk mengantar buku dagangan dari satu toko ke toko lain di sekitar kwitang.

Bagaimana mereka bisa sukses…?

Jawabannya: Karena mereka mau bekerja dan berbuat suatu langkah mengambil setiap kesempatan yang ada di depan mata, dengan memegang prinsip kehidupan sebagaimana disebutkan di atas.

Lalu buat mereka yang sudah terlanjur tua dan masih miskin bagaimana..? Sebenarnya kesempatannya tetap sama, buktinya ada seorang pensiunan yang pekerjaannya juga kurang bagus, namun justru ketika dia pensiun, ternyata malah mampu membuat restoran cepat saji yang mendunia… coba baca sejarah KFC.

Jadi bukan soal tua, muda atau latar belakang pendidikan dan kemampuan ekonomi, tapi modal utama kita adalah sikap mental positif, mau berbuat sesuai prinsip hidup yang baik, maka akan datang kesempatan baik yang membawa kita pada kehidupan yang lebih indah.  Secara spiritual, kadang seringkali disampaikan bahwa kekayaan itu adalah ujian buat manusia agar tidak kufur nikmat, namun ada juga yang bilang kalo kemiskinan itu juga ujian agar manusia tetap tabah, tapi kita lupa bahwa dalam doa kita, sudah terlalu banyak kita mengharapkan rejeki, kemuliaan, kesehatan dan segala harapan, tapi tanpa perbuatan, semua itu tidak bisa datang sendiri, tapi harus dirintis dengan kesabaran, keteguhan hati, kejujura dan semangat…

Ayo kita mulai menerapkan prinsip hidup yang baik dan bermanfaat buat orang lain, niscaya kita akan dapat kesempatan demi kesempatan untuk melangkah dan memajukan diri kita, desa kita dan lingkungan kita semua..

Semoga bermanfaat…

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Melawan Uret

Dua minggu yang lalu saya mendapat laporan bahwa tanaman lada disekitar rumah Wangsamijaya banyak yang berdaun coklat dan mati. Berdasarkan laporan gejala yang terlihat dari foto daun yang mengering dan batang yang mati, kesimpulan pertama adalah terkena jamur. Oleh karena itu, segera di ambil langkah penanggulangannya berupa penyemprotan fungisida paling murah sejagad, yakni menggunakan larutan satu sendok soda kue, dicampur dengan 4liter air, dan sedikit air sabun untuk perekatnya. Hasilnya, tetap tidak menolong, sehingga saya memutuskan untuk melihat sendiri permasalahannya.

Tanggal 18 Maret 2017, saya berkunjung ke Rumah Wangsamijaya untuk melihat kondisi lapangan. Saya tiba sore hari dalam keadaan cuaca hujan cukup deras dan gerimis yang berlangsung sampai malam hari, bahkan ketika saya terbangun pada pukul 1 pagi, hujan masih terdengar, dan baru berhenti sekitar pukul 2 pagi. Cuaca hujan seperti ini, memang menguatkan dugaan adanya jamur yang menyerang tanaman lada.

Uret-metamorfosisSaat pagi hari, pak Jono menyampaikan keluhan soal tanaman lada yang hampir 30% mati, walaupun sudah mendapatkan perlakuan sesuai arahan untuk penyemprotan fungsida. Melihat kondisi ini, saya melakukan penelitian lebih jauh dengan membongkar tanaman yang sedang sakit. Hasilnya terlihat adanya uret, yakni larva kumbang yang sibuk makan akar tanaman dengan lahapnya. Dari satu tanaman saja, sudah terlihat ada dua uret yang menikmati akar lada, jadi bisa dibayangkan berapa banyak uret yang ada diseluruh kebun.

Untuk lebih jelasnya, saya coba gali informasi dari Wikipedia, supaya informasinya lebih lengkap, sebagaimana rincian berikut ini;

Uret (Lepidiota stigma) adalah larva serangga yang menjadi hama pemakan rupa-rupa (polifag) dengan menyerang perakaran berbagai jenis tumbuhan. Fase hidup yang paling mengganggu pertanian adalah fase larva yang dikenal dengan nama umum hama uret atau gayas. Serangga tahap dewasa dikenal sebagai ampal.

Serangga ini memerlukan sekitar satu tahun untuk menyelesaikan daur hidupnya. Dewasanya kawin dan bertelur pada tumpukan sampah/sisa-sisa daun di sekitar bulan Oktober-Desember. Selanjutnya, larva (dikenal sebagai uret) menetas dari telur sekitar dua minggu kemudian. Larva mengalami empat tahap perkembangan (instar), yang ditandai dengan pelungsungan (“ganti kulit”). Instar awal makan dari sisa-sisa akar atau akar yang halus. Instar ketiga, yang berwarna kuning pucat atau putih, adalah tahap yang paling mengganggu pertanaman. Ia akan hidup menjelajah di tanah dan memakan akar segar. Uret menyukai akar tunggang agak tebal dan pada pembibitan tanaman buah dapat mengakibatkan tanaman mendadak rebah atau mengering karena akar utamanya terpotong. Ukuran dapat mencapai 4 cm panjangnya jika telah tumbuh maksimum. Daya jelajah larva sangat besar, bahkan dapat ditemukan uret pada kedalaman 10 m dari permukaan tanah. Larva sangat ringkih di bawah sinar matahari. Paparan sinar matahari sekitar 5 menit akan membuat uret menghitam, mengerut, lalu mati.

Larva akan menjadi pupa pada sekitar bulan Agustus (memasuki puncak kemarau), hingga keluar menjadi serangga dewasa di bulan Oktober atau apabila curah hujan mulai meningkat kembali. Serangga dewasa praktis hidup hanya untuk kawin dan bertelur saja.

Hama ini menyerang tanaman pada lahan kering, seperti jagung, tebu, dan sorgum. Perkebunan tanaman industri, buah-buahan, maupun agroforestri juga terganggu oleh kehadiran serangga yang selalu kelaparan ini. Kehadiran di lahan pertanian biasanya melalui pemberian pupuk kandang yang kurang sempurna pembuatan dan kebersihannya, sehingga membawa telur atau larva instar awal.

Bagaimana cara membasminya?

Jika telah menyerang lahan, uret L. stigma sulit untuk dikendalikan. Pendekatan terpadu harus dilakukan, menyesuaikan dengan kemampuan petani dan ukuran lahan yang terinfeksi. Secara kultur teknis, sanitasi lahan dan penangkapan uret yang bisa dilakukan pada saat pengolahan tanah, lalu bisa juga dengan membasmi indukan ampal pada saat musim kawin, dan proses ini perlu dilakukan secara rutin, agar jumlah serangan tidak membunuh seluruh tanmanan.

Pengendalian biologi dilakukan dengan pemanfaatan cendawan parasit, seperti Metarhizium anisopliae, atau nematoda (cacing kecil) parasit (dikenal sebagai nematoda entomopatogenik), seperti Steinernema. Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan, tetapi biasanya kurang efektif.

Melalui sumber bacaan di atas, sekarang jelas permasalahannya, karena sudah menyerang hampir sebagian tanaman lada yang ada. Berikut ini saya uraikan apa saja kesalahan yang sudah terjadi ?

  1. Pemberian pupuk kandang yang tidak difermentasi dengan baik, sehingga mengundang ampal untuk berkembang biak.
  2. Petani kita, kurang memahami permasalahannya, dan hanya mengandalkan bahan kimia sebagai pembasmi hama, sehingga seringkali mengambil kesimpulan salah, karena hanya melihat yang ada dipermukaan tanah.
  3. Kurang perawatan, sehingga hampir seluruh kebun ditumbuhi rumput, dan tanaman lada tidak terlihat, dan saat dibersihkan baru tahu banyak lada yang mati.

Menyadari kesalahan tersebut, perlu dilakukan penanganan yang tepat, sehingga harus di lakukan proses edukasi, bahwa pemupukan harus melalui proses fermentasi yang baik, melalui penebaran microba EM4, atau nitrobacter sebagai  bakteri pengurai, dan jika diperlukan proses fermentasi ditambah dengan penggunaan furadan atau diazinon sebagai pembasmi serangga dan larva di dalam pupuk sebelum penyebaran di sekitar akar tanaman.

Pengendalian hama secara organik, masih akan saya coba menggunakan bakteri Metarhizium Anisopliae sebagai alternatif perlawanannya, dengan komposisi 100gr, dicampur dengan 100liter air, bisa digunakan untuk luas lahan sekitar 1000 m², mudah mudahan cara ini cukup efektif, untuk itu harus terus belajar lagi mencari solusi atas serangan hama ini. Sedangkan saat ini, langkah penanggulangan masih terbatas pada perawatan intensif, sekaligus membongkar tanah yang mengandung banyak uret.

Semoga informasi ini bermanfaat.

 

Posted in Budidaya Lada | Tagged | Leave a comment

Modul Usaha Untuk Desa Cilongok

Modul budidaya yang saya posting di sini, bisa didownload (klik tulisan biru) dan dipelajari. Isinya cukup bermanfaat, ada pesan sponsornya, tapi gak ada salahnya untuk dicoba, karena harga juga relatif murah, yang mahal justru karena kita tidak punya kemauan. Silahkan dipelajari, dan disesuaikan dengan kondisi setempat. Jika ada hal yang ingin ditanyakan, bisa posting disini.

Cilongok adalah desa yang makmur dan subur, hanya saja belum dikelola dengan maksimal. Seandainya seluruh warga Cilongok mau membantu saya mengembangkan desa ini, insyaAllah, dalam waktu kurang dari 2 tahun, sudah bisa punya kandang komunal untuk sapi, kambing dan ayam, jadi tidak harus semua orang punya kandang sendiri, tapi kita sewa lahan dan kita berbagi luasan kandang untuk mengurus ternak masing masing, dan kalo ada kunjungan mantri hewan, kita bisa dapat layanan paling duluan karena populasi peternak yang terpusat.

Begitu juga untuk pembuatan kolam ikan air tawar, sebenarnya kalo ada yang punya tanah dengan debit air berlimpah, bisa dimanfaatkan sebagai kolam komunal, dimana setiap orang bisa memanfaatkan kolam terpal dengan ukuran yang sudah ditentukan.

Apalagi jika, seluruh padi dan tanaman dikelola secara ORGANIK, tentu harga jual produk padi akan sangat mahal, dan istimewa, bahkan bisa dibuatkan sertifikat bahwa produk dari desa Cilongok adalah produk sehat.

Bagi yang berminat untuk diskusi dan merencanakan kemajuan desa Cilongok, silahkan kumpul saat acara latihan kuntulan di rumah Wangsamijaya.

Bagaimana….?

  1. Penggemukan sapi potong – Penggemukan sapi, sudah dikerjakan oleh beberapa warga desa Cilongok, salah satunya adalah kandang milik Haji Bambang Guru. Silahkan dipelajari bagaimana keuntungan yang diperoleh dari penggemukan sapi, dan bagi yang tidak punya tempat, mungkin bisa “nitip” atau berbagi kandang dengan pemilik kandang, sehingga proses perawatan kandang dan pemeliharaan sapi bisa dikerjakan bersama sama.
  2. Penggemukan kambing potong – Untuk penggemukan kambing, saya lihat juga sudah ada, namun saya belum pernah mengunjunginya. Antara lain di tempat putranya pak Tarjono, yang bernama Zainal, dimana dia hanya memelihara 4 ekor kambing, dan potensinya sangat baik, hanya saja lahannya memang terbatas.
  3. Budidaya ikan Lele kolam terpal – Budidaya ikan, belum ada yang benar benar berjalan di desa Cilongok, tapi saya lihat ada kolam pemancingan, yang bisa dimanfaatkan untuk ternak lele. Bahkan bisa jadi kolam komunal jika mau menyewakan lahannya untuk pembudidaya lain yang tidak punya lahan.
  4. Budidaya lada – Prosesnya baru saja dimulai, terutama di Rumah Wangsamijaya, dimana sekitar rumah tersebut, ditanam Lada dan Durian, sementara ini sedang diserang uret, dan nanti akan dirawat secara organik, sehingga tidak ada insectisida yang digunakan dalam pembasmian uret ini.
  5. Budidaya Padi Organik – Padi Organik, belum pernah dikembangkan di desa Cilongok, karena kawasan budidaya padinya hanya memiliki sumber air bersama yang mengalir dari petak sawah lain, maka untuk bisa mengembangkan padi Organik, kita semua harus punya cara tanam dan penggunaan pupuk yang sama. Misalnya pola tanam kita atur bersama, pencegahan hama dengan asap cair yang dihasilkan dari pembuatan arang sekam, lalu pemasarannya dilakukan bersama dengan satu merek padi, misalnya ‘Padi Organik Wangsamijaya’, sehingga harganya bisa mencapai Rp20-40rb per Kg.
  6. Budidaya Cabai – Budidaya cabe juga sudah pernah dilakukan, tapi tidak ada yang berhasil saat musim hujan. Mungkin harus dikembangkan budidaya cabe dengan metode green-house, sehingga semua tanaman terlindungi dari hujan.

Semua, modul di atas, akan bermanfaat jika kita coba dan kita kembangkan lebih jauh, melalui komunikasi dan diskusi antar petani. Kekompakan dan semangat untuk bekerja sama akan membuat seluruh desa akan menikmati kemakmuran. Jika kita mau mencoba untuk mulai bergerak dalam satu irama.

Ayo kita mulai…   Semoga bermanfaat.

 

Posted in Wirausaha | Tagged | Leave a comment

Resep Kaya Raya, Jadi Orang Desa

Dalam perjalanan pulang ke Jakarta dari Desa Cilongok, pada tanggal 19 Maret 2017 kemarin, rasa lelah sepanjang perjalanan jadi tidak terasa, apalagi harus menempuh kemacetan menjelang masuk kota Jakarta. Sepanjang jalan itu, saya tidak merasa lelah atau mengantuk, karena sibuk menumpahkan ide dan pikiran dalam bentuk diskusi dengan adik saya.

Adik saya kebetulan adalah seorang yang cukup berani mengambil keputusan menjadi wirausahawan, padahal saya sendiri yang sudah beberapa kali berhasil menjalankan usaha, namun akhirnya membiarkan usaha menjadi bangkrut karena merasa lebih nyaman menjadi karyawan. Jadi karyawan itu enak loh, tanpa beban, karena target perusahaan bisa dikejar secara bersama sama, bahkan tidak takut hidup susah, karena setiap bulan sudah ada jaminan pendapatan, bonus, fasilitas kesehatan dan fasilitas kerja yang sangat baik. Semua kenikmatan tersebut diatas, tidak mungkin kita peroleh jika kita wirausaha, apalagi wirausaha itu butuh modal.

Bayangan sebagai wirausahawan yang gagal menjalankan bisnis memang rasanya menakutkan. Itu lah sebabnya tidak banyak orang yang mau jadi wirausahawan, karena sejak kecil, saya sudah diarahkan untuk menjadi seorang pegawai negri. Ya pegawai negri yang hidupnya terjamin, dan pensiun dapat tunjangan sampai mati, namun akhirnya saya berhasil menjadi pegawai negeri, tapi karena tidak puas, akhirnya jadi pegawai swasta. Konsep kehidupan mapan seperti itu, tentu tidak bisa begitu saja berubah. Namun jika keadaan memaksa, dimana kita tidak punya pekerjaan, dan saat ini sedang membutuhkan penghasilan tetap, tentu harus memutar otak sebagai usahawan agar bisa bertahan hidup.

Lalu bagaimana caranya jadi wirausahawan, jika saya sendiri sedang menikmati hidup sebagai karyawan?

Sebenarnya, setiap manusia punya bakat usahawan karena dalam diri setiap mahluk hidup selalu ada bekal sebagai penyintas (survivor), tidak ada mahluk hidup yang benar benar mati sebelum mencoba bertahan untuk hidup. Salah satunya adalah dengan berusaha memperoleh penghasilan agar mampu menopang kehidupannya. Nah… berbekal kemampuan sebagai penyintas tadi, saya sudah pernah mengalami situasi dimana saya menjadi pegawai yang tidak memiliki jabatan, karena suatu hal buruk yang dituduhkan kepada saya oleh seorang karyawan perusahaan (kisah ini akan saya ceritakan dalam artikel terpisah), sehingga saya seperti kehilangan pekerjaan, walaupun tetap menerima gaji dan remunerasi yang normal, namun tidak banyak pekerjaan yang bisa saya lakukan untuk perusahaan tempat saya bekerja. Adanya naluri penyintas tadi, mendorong saya untuk berkarya, dan hasilnya sungguh diluar dugaan, karena tanpa saya sadari, saya telah membangun usaha berupa sebuah salon kecantikan, dua buah warnet, dan bahkan membangun studio foto, yang mampu bertahan selama kurun waktu 5-7tahun. Walaupun akhirnya seluruh usaha tersebut bangkrut, namun prestasi ini, juga jadi semacam pembuktian, bahwa setiap orang punya bakat wirausaha dan bisa berkembang baik jika dikelola dengan baik.

Nah, isi tulisan ini adalah tentang, bagaimana caranya menjadi kaya raya sebagai orang desa, dilatarbelakangi oleh semangat membangun desa, tapi tetap bisa menghasilkan keuangan yang cukup memadai dengan bisnis dari desa kecil. Ayo kita coba berhitung secara matematika agar memperoleh penghasilan yang memadai dari kegiatan usaha di desa.

Terdapat tiga cara usaha di desa kecil adalah dengan berternak, bertani dan berdagang, dari tiga model usaha tersebut, salah satu yang paling instan adalah berdagang, karena saat hari ini kita membeli produk, maka bisa langsung dijual dengan margin keuntungan yang kita tentukan, sedangkan untuk berternak dan bertani, kita harus investasi sejumlah biaya dan tenaga, selama kurun waktu tertentu untuk mendapatkan keuntungan saat panen tiba. Namun semua kegiatan diatas sebenarnya saling kait mengait, dan bisa menjadi bisnis model yang bagus.

Ilustrasinya adalah sebagai berikut:

Ternak= Perlu jerami untuk pakan dan tenaga kerja untuk menghasilkan daging, dan pupuk kandang; Tani= Perlu pupuk dan tenaga kerja untuk menghasilkan beras, jerami dan sekam, Dagang= Menjembatani kelangkaan pakan dan pupuk dari satu wilayah ke wilayah lain, serta menjual beras dan daging kepasar yang harganya lebih tinggi. Melihat potensi transaksi bisnis di atas, maka peternak dan petani, membutuhkan pedagang agar bisa memperoleh harga jual yang bagus, dan menekan ongkos produksi jika menggunakan pakan dari jerami petani, dan sebaliknya petani memperoleh pupuk dari peternak.

Sekarang ayo kita mengintip transaksi bisnisnya, dimana untuk memperoleh pertumbuhan 1kg/hari untuk seekor sapi, dibutuhkan 20-25kg pakan setiap hari (sebenarnya tergantung ukuran sapi) dengan harga sekitar Rp700-900/kg, sementara itu petani  membutuhkan pupuk kandang yang bisa meningkatkan hasil panen, dimana untuk padi organik yang harganya mahal, petani perlu pupuk kandang paling tidak 1-2ton perHa dari peternak, dengan harga Rp.500-700/kg. Melalui dua transaksi itu saja, seorang peternak harus keluar biaya sekitar Rp14rb-22.5rb/hari/ekor (Rp420-675rb/bulan), sedangkan petani membutuhkan biaya sekitar Rp.500rb-1.4jt/Ha/4bulan (jika dikonversi dalam hitungan bulan, jadi Rp250rb-350rb/bulan/Ha.) Selanjutnya, pedagang memperoleh keuntungan dari transaksi antara petani dan peternak, melalui proses pengangkutan, penyimpanan dan pengiriman material pakan dan pupuk saja, misalnya mengambil keuntungan Rp100/kg, maka untuk memperoleh penghasilan Rp10jt perbulan, seorang pedagang hanya perlu menjual 100 ton pakan/rumput/bulan. Dimana pedagang ini, hanya akan mengelola 3ton/hari, atau hanya mencari transaksi sebesar Rp1.5jt-2.7jt/hari. Darimana uang tersebut, yaitu dari harga pupuk kandang paling murah, sekitar Rp500/kg X 3000kg/hari = Rp.1.5juta, dan harga pakan ternak paling mahal sekitar Rp900/kg=Rp2.7jt.

Nah 3000kg pupuk kandang itu, bisa dihasilkan dari  150 ekor sapi yang memproduksi 20kg pukan per hari, sedangkan untuk  3000kg rumput pakan sapi, bisa dihasilkan dari seperempat Ha lahan padi, yang dihasilkan dari limbah panen, yang harus diolah dan disimpan dulu sebelum siap menjadi produk jadi pakan sapi.

Pertanyaannya, dari mana ada 150 ekor sapi, dan dari mana diperoleh 3ton pakan setiap hari?

Tentu saja semua itu bisa diperoleh jika ada 15 peternak yang masing masing punya 10 ekor sapi, dan ada 92Ha lahan padi yang setiap 4hari sekali, ada 1Ha lahan yang panen, menghasilkan 12ton jerami setiap panen. Byuuh.. hitungannya rumit, tapi untuk menyederhanakannya, maka untuk membuat bisnis itu hidup, maka harus ada yang ternak sapi dan tanam padi. Sedangkan untuk desa Cilongok, petani padi sangat banyak, padahal untuk peternaknya masih sedikit. Jadi supaya bisnisnya bisa jalan, maka harus dikembangkan program ternak dengan kandang komunal, sehingga proses pemberian pakan menjadi lebih mudah dan murah, sedangkan untuk produksi petani, saya melihat sudah cukup terjamin untuk menyediakan pakan ternak yang berkelanjutan.

Jadi untuk memperoleh penghasilan Rp10juta per bulan, dibutuhkan transaksi senilai 1.5-2.7jt/hari, dengan margin keuntungan rata rata Rp100/kg nilai transaksi pakan ataupun pupuk. Bagi saya, potensi ini adalah potensi tersembunyi, karena transaksi sebesar itu adalah transaksi sederhana, padahal dibalik itu masih ada potensi lain yang belum digarap, seperti perikanan air tawar dimana aliran sungai di desa Cilongok masih sangat potensial, belum lagi produksi pertanian lainnya seperti pengolahan limbah sekam untuk diolah menjadi arang sekam, dan di olah lebih lanjut menjadi briket arang yang harganya Rp4000/kg, sedangkan dalam proses pembuatan arang sekam, dihasilkan produk sampingan berupa asap-cair yang harganya Rp.20ribu per liter, karena fungsinya bisa untuk antiseptik, pencegah hama wereng, memberi aroma dan citarasa makanan, serta berbagai manfaat lainnya. Sedangkan arang sekam sendiri, juga masih bisa dikembangkan lagi menjadi arang aktif yang berfungsi sebagai penawar racun, warna dan bau.

Bukan itu saja, masih ada model bisnis yang ke-empat, yang merupakan pengembangan dari tiga model bisnis yang saya uraikan di atas (Berternak, Bertani dan Berdagang), dimana masih ada potensi lainnya, yakni saat industri pertanian dan peternakan berkembang, maka kita bisa mengundang investor untuk memanfaatkan kandang komunal, atau kolam komunal untuk budidaya ikan dan ternak, juga untuk mengembangkan wisata edukasi wirausaha pertanian, wirausaha peternakan dan menjadi tempat wisata lengkap jika ada pertunjukan kesenian dan kebudayaan, serta olahraga dan bisnis hospitality lainnya seperti, kuliner, penginapan home-stay,  pengobatan alternatif dengan produk organik, serta pertunjukan seni dan event budaya lainnya, maka skala bisnis di desa menjadi tanpa batas…

Mengembangkan industri wisata dan bisnis di desa, memang seperti mimpi, jangankan memulai, membayangkannya saja sudah begitu sulitnya. Namun begitu, tidak ada yang mustahil jika saja ada warga desa yang mau memulai, dan saya sendiri sedang memulai dengan membuat langkah langkah kecil, mengajak warga dan orang orang dekat untuk ikut merintis dan mengembangkannya. Sulitnya melibatkan warga di tahap perintisan memang sudah saya rasakan, yakni ketika membentuk POKDARWIS, padahal semangatnya sudah ada, namun ketika sudah disiapkan kegiatannya dan juga atribut seperti topi, dan kaos sebagai penyemangat….. ternyata hanya satu orang saja yang bisa hadir, yakni mas Wahyu Mustiko…  ya sudah lah, mungkin bukan sekarang saatnya, tapi semangat itu tetap ada, dan saya harus memutar kemudi mengambil jalan lain yang lebih panjang….

Begitulah omong kosong saya sepanjang perjalanan dari Cilongok ke Jakarta yang ditempuh dalam waktu 7jam perjalanan, sampai kaki terasa kaku…  semoga bermanfaat.

Posted in Wirausaha | Leave a comment